Tim SAR Gabungan Lakukan Simulasi Pertolongan di Bangunan Runtuh

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Sebanyak 52 Tim SAR gabungan, akumulasi dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang, TNI/Polri, instansi pemerintah dan non pemerintah melakukan simulasi cara memberikan pertolongan kepada para korban di bangunan runtuh akibat gempa tektonik yang digelar di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang, Jumat (2/8/2019) petang.

Simulasi ini sekaligus menutup rangkaian kegiatan Pelatihan Pertolongan di Bangunan Runtuh yang digelar Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang selama 5 hari di Kupang, sejak 29 Juli sampai dengan 2 Agustus 2019 di Hotel Neo Kupang dan Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang.

Hadir dalam kegiatan simulasi itu, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang, Emi Frizer,SE,MM bersama sejumlah pejabat terasnya, dua orang observer dari Kantor Pusat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, tiga orang instruktur dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang dibantu 4 Asisten Instruktur yang sudah memiliki lisensi dan pernah mendapat pelatihan.

Menurut Emi, latihan melakukan pertolongan kepada para korban yang tertimbun di dalam bangunan runtuh pasca gempa tektonik baru pertama kali di gelar di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang.

Lalu mengapa simulasinya fokus pada bangunan runtuh, mengingat potensi bahaya gempa di NTT cukup tinggi, salah satunya di Sumba. Berdasarkan pantuan BMKG yang mempunyai otoritas analisa gempa menyebutkan, Wilayah Sumba salah satu daerah rawan gempa di NTT, dimana dalam sehari saja, hampir lebih dari 15 kali terjadi gempa bumi.

Kata Emi, simulasi yang diberikan kepada para peserta ini, merupakan implementasi dari ilmu pengetahuan yang  mereka peroleh selama 4 hari mengikuti pembekalan, dimana dua hari melakukan pembekalan pertolongan para korban bencana, dan dua hari lagi melakukan pembekalan pertolongan di bangunan runtuh.

Baca juga :  Gubernur Panen TJPS Periode Oktober-Maret

Dalam simulasi itu, para peserta mampu mengidentifikasi korban yang terjebak di dalam reruntuhan gendung pasca terjadi gempa, lalu bagaimana bisa mencari akses untuk bisa menemukan korban di dalam reruntuhan gendung, dan bagaimana mengamankan lokasi atau bangunan yang dalam kondisi miring.

Di dalam gedung itu ada korban, maka perlu dilakukan penyanggaan. Setelah dilakukan penyanggaan, baru  melakukan evakuasi korban, kemudian dibawa ke bagian pelayanan medis untuk mendapat perawatan medis.

“Karena itu, semua stakeholder harus berkolaborasi untuk kita sama-sama bergerak menuju ke satu tujuan yang sama. Arah pergerakan ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus bersinergi dari semua potensi SAR yang dimiliki. Dengan dibentuknya posko, maka kita bisa mevoting daerah mana yang menjadi prioritas, daerah mana  yang menjadi penyangga, dan daerah mana yang menjadi pusat distribusi logistik, sehingga tidak tertumpuk di salah satu lokasi saja,” urainya.

Seharusnya yang mengikuti simulasi ini, kata Emi, sebanyak 60 orang personil, tetapi karena berbarengan dengan kegiatan Lasarda, sehingga anggotanya terbagi, dan sisanya hingga penutupan tinggal 52 orang saja.

“Kami punya ketentuan, kalau satu hari tidak mengikuti kegiatan, langsung didiskualifikasi atau dikeluarkan dari tim. Karena syaratnya untuk mendapatkan sertifikat harus mengikuti penuh semua tahapan kegiatan,” tukasnya.

Saat menutup kegiatan itu, sebagai panitia penyelenggara, ia juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas semua potensi SAR dan partisipasi aktif semua stakekholder selama kegiatan ini berlangsung.

“Kami ucapkan selamat jalan dan selamat berkumpul kembali bersama keluarganya masing-masing, semoga apa yang diperoleh selama pelatihan ini dapat memberikan manfaat dalam membantu pelaksanaan pelayanan Tim SAR di tempat kerja kita masing-masing,” imbuhnya.

Memberi Apresiasi
Para peserta pelatihan Tim SAR gabungan berfoto bersama Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang, Emi Frizer,SE,MM saat penutupan di Lantai II Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang, Jumat (2/8/2019) petang. (Foto : Kanisius Seda/NTT PEMBARUAN.com)

Normanto, dan Rio Yudha, observer dari Kantor Pusat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan memberi apresiasi kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang yang berhasil menyelenggarakan pelatihan pertolongan di bangunan runtuh bagi semua potensi pencarian dan pertolongan di daerahnya.

Baca juga :  Warga Oebelo Hilang Saat Mencari Ikan di Perairan Panmuti

Untuk personil di Kantor SAR Kupang ini, menurut Normanto, sangat baik sekali karena sudah dilengkapi sejumlah peralatan yang siap untuk membantu para korban bencana, dan kompetensi para pegawainya selalu terjaga.

Ia melihat, pelatihan seperti ini sangat bagus, karena Kota Kupang, salah satu area yang sangat rawan akan bencana gempa.

“Kami menyadari, anggota Basarnas ini sangat sedikit, sehingga kami mengundang para potensi SAR untuk melakukan tindakan preventif, apabila terjadi gempa yang melanda Wilayah Kupang.  Apa lagi, Kota Kupang sekarang banyak bangunan gedung bertingkat, mulai dari hotel, kantor, hypermart, Transmart, Lippo Plaza, rumah sakit, dan sebagainya, sehingga apabila terjadi bangunan runtuh, kita berkordinasi dengan potensi SAR yang sudah dilatih oleh Basarnas Kelas A Kupang,” harap dia.

Ditanya soal kelengkapan peralatan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang saat ini, jawab Normanto,  untuk peralatan, semua Kantor SAR sudah memiliki peralatan yang standar, sehingga semua SDM-nya siap melaksanakan operasi SAR.

Sementara Ketua Panitia Penyelenggara Pelatihan Potensi Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang, Muhamad Arif, S.Sos, M.M dalam laporannya saat penutupan kegiatan itu di Lantai II Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang  menyebutkan, peserta pelatihan pertolongan di bangunan runtuh bagi potensi pencarian dan pertolongan ini diikuti TNI/Polri dan instansi berpotensi SAR terkait lainnya sebanyak 60 orang dengan waktu pelatihan sejak 29 Juli – 2 Agustus 2019 di Hotel Neo dan Kantor  Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang.

Instruktur yang menuntun para peserta pelatihan ini, dua orang observer dari Kantor Pusat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, tiga orang instruktur dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang dibantu 4 Asisten Instruktur yang sudah memiliki lisensi dan pernah mendapat pelatihan.

Baca juga :  Korban Bencana Alam Seroja di Penfui Timur Terima Bantuan Sembako

Hasil yang dicapai dari pelatihan ini, pertama, peserta mampu memahami materi substansi dan organisasi Basarnas, kedua, peserta mampu menjelaskan pengantar pertolongan pertama (first aid) dan refrensi anatomi, dan ketiga, peserta mampu melakukan pemindahan dan penilaian korban.

Keempat, peserta mampu melakukan bantuan hidup dasar dan RJP serta terapi oksigen melakukan penanganan pra rumah sakit pada pendarahan shock dan cedera jaringan lunak, lima, peserta mampu melakukan penanganan pra rumah sakit pada cedera alat gerak, dan enam, peserta mampu melakukan penanganan pra rumah sakit pada cedera kepala, leher dan tulang belakang.

Tujuh, peserta mampu melakukan penanganan pra rumah sakit ke  gawatdarutan lingkungan, delapan, peserta mampu melakukan triage, sembilan, peserta mampu menjelaskan safety kerja di bangunan runtuh, dan sepuluh, peserta mampu menjelaskan struktur bangunan.

Sebelas, peserta mampu menjelaskan fungsi dan mampu menggunakan TEA, dua belas, peserta mampu melakukan shoring di struktur bangunan yang tidak stabil, tiga belas, peserta mampu membuat marking dan akses,  empat belas, peserta mampu mengenali dan mengatasi ancaman hazardus material, dan lima belas, sebagai wujud apresiasi seluruh peserta diberikan piagam berupa surat keterangan sertifikat dan uang transportasi. (ade)