Purnama : “Mari Kita Bersinergi Membantu Tim SAR ”

KUPANG, NTT PEMBARUAN. com – Direktur Operasi Basarnas Pusat,  Brigadir Jenderal TNI (Mar), Budi Purnama, S.Pi, M.Ag mengajak semua pihak untuk bersinergi membantu Tim SAR dalam menunjang kegiatan penyelenggaraan tugas-tugas pencarian dan pertolongan, baik pada kecelakaan penerbangan, kecelakaan kapal, bencana alam, dan kondisi membahayakan manusia.

“Kunci sukses penanganan suatu kejadian kecelakaan dan bencana adalah kerjasama, soliditas dan sinergi dari setiap institusi atau organisasi yang terlibat dalam sebuah operasi pencarian dan pertolongan,” kata Direktur Operasi Basarnas Pusat,  Brigadir Jenderal TNI (Mar), Budi Purnama, S.Pi, M.Ag dalam sambutan pada pembukaan Rapat Koordinasi Pencarian dan Pertolongan Latihan SAR Beregu dan Pelatihan Potensi SAR Kantor Pencarian dan Pertolongan Kupang di Hotel Neo Kupang, Senin (29/7/2019).

Mereka hadir dengan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki, kemudian dihimpun oleh sebuah sistem operasi yang menjamin bahwa kemampuan dan kekuatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjawab tantangan tugas di lapangan.

Kerjasama di bidang operasi itu, lanjut dia, harus dikoordinasikan oleh satu kepemimpinan di lapangan yang handal, sehingga bila ada suatu kecelakaan dan bencana, semua orang yang terlibat terutama petugas pencarian dan pertolongan sudah memiliki pemahaman yang sama dalam satu komando.

Tanpa kepemimpinan yang baik dalam sebuah operasi pencarian dan pertolongan, meskipun terdapat banyak orang yang dilengkapi dengan peralatan yang hebat, maka operasi pencarian dan pertolongan tersebut   tidak akan maksimal.

Sampai dengan bulan Juni Tahun 2019 Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang telah menyelenggarakan operasi pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan kapal 10 kali dengan hasil 59 orang korban selamat, meninggal dunia nihil, serta 3 orang hilang, pada bencana sebanyak 5 kali dengan hasil tidak ada tindakan evakuasi karena daerah terdampak tetap dalam kondisi kondusif, serta pada kondisi membahayakan manusia sebanyak 7 kali dengan hasil  3 orang korban selamat, 5 orang meninggal dunia, dan 1 orang hilang.

Baca juga :  Gubernur NTT Tinjau Realisasi Jalan Provinsi di Mabar

Posisi geografis Wilayah Kerja Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang memiliki intensitas penerbangan yang sangat tinggi seiring dengan peningkatan kapasitasnya menjadi Bandara Internasional, berdampingan dengan batas laut teritorial terluar Indonesia – Australia yang ramai dilalui berbagai pelayaran, baik domestik maupun internasional, serta perbatasan teritorial daratan dengan Timor Leste setidaknya menjadi pemicu tingginya potensi terjadinya kecelakaan pesawat udara, kecelakaan kapal dan kondisi membahayakan manusia termasuk penanganan pengungsi asing.

“Kita sebagai lembaga pemerintah bersama seluruh lapisan masyarakat harus hadir, saling mendukung, dan bersinergi dalam memberikan pelayanan pencarian dan pertolongan sesuai amanah Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang pencarian dan pertolongan. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, tidak dapat bekerja sendiri, namun didukung oleh segenap potensi pencarian dan pertolongan, baik yang berasal dari TNI/Polri, instansi sipil, swasta maupun organisasi masyarakat,” urainya.

Lebih lanjut dijelaskannya, salah satu bentuk perbantuan pencarian dan pertolongan adalah dari TNI, dalam Undang-Undang Nomor 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, pasal 7 disebutkan bahwa tugas pokok TNI dilakukan dengan  operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang. Yang termasuk dalam operasi militer selain perang (OMSP), salah satunya adalah membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan.

Selain TNI, tambah dia, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam pasal 14 ayat 1 (huruf i) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 juga meiliki kewajiban untuk melindungi keselamatan jiwa dan raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Hal ini sesuai pasal 258 ayat 1 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang pelayaran, dan pasal 352 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang penerbangan, bahwa sesuai komitmen pemerintah yang menyatakan bahwa Pemerintah Republik Indonesia bertanggung jawab melaksanakan pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan pelayaran dan kecelakaan penerbangan di wilayah kedaulatan Republik Indonesia.

Baca juga :  Gubernur NTT Dampingi Menteri Kelautan dan Perikanan ke Kabupaten Kupang

Dari uraian di atas, diperlukan sebuah penyusunan rencana kontijensi yang terukur, terarah, serta saling terkait antara satu instansi dengan instansi lainnya, karena dalam kondisi darurat rencana kontijensi itulah yang harus diaktifkan sehingga masing-masing instansi dapat mengambil peranan siapa, bagaimana, dan harus berbuat apa sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing, termasuk dalam penanganan pengungsi asing.

Dalam penanganan pengungsi asing, lanjutnya lagi, Basarnas khususnya Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang dapat melibatkan para potensi pencarian dan pertolongan serta dukungan dan peran serta masyarakat untuk membantu pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan, dan penanganan pengungsi asing tersebut.

Potensi pencarian dan pertolongan yang dimaksud adalah Sumber Daya Manusia (SDM), sarana dan prasarana, informasi dan teknologi, serta hewan, selain Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan/Basarnas yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan penyelenggaraan operasi pencarian dan pertolongan, serta penanganan pengungsi asing.

Peran potensi ini sangat penting mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh Basarnas khususnya Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A  Kupang.  “Dengan pelibatan potensi dan masyarakat inilah, kita mengharapkan operasi pencarian dan pertolongan dapat dilaksanakan dengan cepat guna mengoptimalkan layanan pencarian dan pertolongan kepada masyarakat,’ujarnya.

Untuk menjawab tantangan besar ini dan mendukung keberhasilan suatu operasi pencarian dan pertolongan, maka Basarnas sebagai pemegang amanah Undang-Undang pencarian dan pertolongan bersama dengan kekuatan lainnya yaitu harus selalu hadir bersinergi dalam melayani masyarakat di bidang jasa pelayanan SAR.

“Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan melalui rapat koordinasi seperti ini agar kita mempunyai kesamaan pola pikir dan pola tindak dalam melaksanakan operasi pencarian dan pertolongan secara terpadu,”pungkasnya

Dari beberapa operasi pencarian dan pertolongan yang telah dilaksanakan oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang, ada beberapa faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan operasi tersebut.

Baca juga :  Produktif Saat Pandemi, Program Diskon Tambah Daya Listrik “SUPER WOW” Tembus 367 Ribu Pendaftar

Adapun faktor pendukungnya adalah  pertama,        penyampaian informasi bencana yang cepat dari pihak terkait, kedua, kerjasama  yang baik antar instansi dan organisasi yang terlibat dalam operasi pencarian dan pertolongan di lapangan, ketiga, dukungan dari berbagai pihak berupa logistik, BBM, peralatan dan sebagainya yang berasal dari TNI/Polri, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Badan Usaha, Organisasi Kemasyarakatan dan lain sebagainya, dan keempat, dukungan             media massa dalam penyampaian informasi operasi pencarian dan pertolongan yang cepat dan akurat kepada masyarakat.

Kemudian beberapa hal yang menjadi kendala Tim SAR gabungan saat operasi pencarian dan pertolongan, yaitu  pertama, luasnya wilayah kerja Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang dengan jarak tempuh yang jauh dan memerlukan waktu yang lama, kedua,  tingkat kesadaran masyarakat akan keselamatan yang masih rendah dan ketiga, wilayah lautan yang luas sering dimanfaatkan untuk jalur lintas pengungsi asing.

“Dari faktor pendukung dan kendala di lapangan, saya secara pribadi berharap dapat kita perbaiki dan tingkatkan kinerja operasi pencarian dan pertolongan ke depan agar lebih profesional, dengan didukung kesiapan fasilitas, sistem kerja dan kekompakan kita semua. Dengan demikian, kita akan mampu melayani masyarakat dengan baik,” kata Budi penuh optimis.

Koordinasi dan sinergi yang mantap antara Basarnas dengan potensi pencarian dan pertolongan dilakukan dalam upaya meningkatkan respons time, sehingga operasi dapat dilaksanakan dengan baik dan prima, sehingga korban yang diselamatkan dapat lebih banyak. (ade)