KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Dalam rangka menyongsong Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 tahun ini, REI NTT menggandeng Bank NTT melakukan expo selama 10 hari, terhitung sejak tanggal 9 – 18 Agustus 2019 dipusatkan di Lippo Plaza Kupang.

Menurut rencana, Expo REI NTT ke-12 tahun ini dibuka secara resmi oleh Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore pada hari Jumat, 9 Agustus 2019 sekitar pukul 18.30 Wita (jam 06.30 Wita) di Lippo Plaza Kupang.

“Kegiatan ini, kami namakan Bank NTT REI Expo 2019  dengan melibatkan 13-15 Developer dari 76 Anggota REI di  NTT,” kata Ketua DPD REI NTT, Bobby Pitoby kepada wartawan di Kantor DPD REI NTT, Sabtu (27/7/2019).

Bobby mengatakan, kegiatan Expo REI NTT ini, biasanya dalam setahun digelar 2-3 kali. Dalam tahun ini, sudah dilaksanakan pada April 2019, dilanjutkan tanggal 9-18 Agustus 2019 dalam waktu dekat ini dengan tujuan merumahkan masyarakat.

Untuk menghibur masyarakat NTT, khususnya Warga Kota Kupang, dan sekitarnya, DPD REI NTT akan menurunkan  sejumlah artis ternama ibu kota selama kegiatan berlangsung.

“Di ajang Expo REI NTT ini, kita akan mensosialisasikan seputar informasi pembelian rumah bersubsidi juga sebagai ajang edukasi kepada masyarakat untuk mengetahui program rumah bersubsidi dari pemerintah,”tuturnya.

Baca juga :  NTT Targetkan Sepuluh Medali Emas Pada PON XX di Papua 2021

Program rumah bersubsidi dari pemerintah, menurut dia, cukup banyak. Ada yang namanya Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan  (FLPP), dan ada lagi program baru yang namanya,  Program Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) dari Kementerian PUPR untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),sehingga bisa memiliki rumah bersubsidi.

Masyarakat perlu tahu siapa-siapa saja yang bisa mendapatkan rumah subsidi, sehingga tidak tertipu oleh rayuan gombal dari Developer “Bodong” yang akhir-akhir ini banyak masyarakat NTT yang menjadi korbannya.

Developer “Bodong” yang telah menipu masyarakat NTT itu, rata-rata tidak terdaftar di DPD REI NTT “Ini yang perlu kita lakukan edukasi kepada masyarakat. Sebab, kebanyakan Developer “Bodong” ini bukan anggota REI NTT. Mereka ini hanya bermodal sewa gedung bagus, menjual gambar, dan brosur untuk selanjutnya minta uang muka dari masyarakat yang berminat, lalu tiga bulan kemudian kabur,” tandasnya.

Oleh sebab itu, ia menghimbau kepada masyarakat kalau mau membeli rumah, tolong cari Developer yang menjadi anggota REI.  Sebab, untuk menjadi anggota REI NTT kita sudah cek keabsahan perusahannya. Untuk sekarang, tidak ada Developer REI NTT yang “bodong”, ujarnya.

DPD REI NTT memiliki 76 anggota perusahaan yang tersebar di 22 kabupaten/kota di NTT, kebanyakan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.  “Sebagai organisasi REI, kita digandeng pemerintah untuk membangun 1,2 juta unit rumah di Indonesia. Jatah NTT tahun 2018 lalu sebanyak 3000 unit rumah, realisasi  2.864 unit rumah. Tahun ini, kita target 3.500 unit rumah dibangun anggota REI NTT. Yang sudah terbangun hingga Juni 2019 kemarin,  1.700-an unit rumah. Semoga melalui ajang Expo REI NTT  ini, tingkat penyerapannya meningkat lagi,” harap dia.

Baca juga :  21 Paket Jalan di Dinas PUPR Kota Kupang Sudah Rampung 100 Persen

Ajang Expo ini juga sebagai langkah preventif, sehingga tidak banyak masyarakat terjebak dengan janji-janji muluk dari Developer “Bodong”.

Target 3.500 Unit Rumah

Bobby juga menyebutkan, Tahun 2019 ini DPD REI NTT menargetkan 3.500 unit rumah dibangun di NTT, dan yang sudah terbangun per Juni 2019 sebanyak 1.700-an rumah.   Sebelumnya, Tahun 2018 dari target 3000 unit rumah, yang terbangun 2.864 unit rumah.

“Kami berharap, melalui Expo REI NTT  ini penyerapan rumah subsidi akan meningkat. Karena saya sudah  berkoordinasi dengan Walikota Kupang dan DPRD Kota Kupang untuk mereview kembali Biaya Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHATB). Ini sebenarnya pajak daerah yang diwajibkan kepada setiap pembeli rumah untuk membayar pajak sebesar Rp 4,9 juta,” jelas Bobby.

Baca juga :  Gubernur Lantik Bupati/Wabup SaRai dan Bupati Lembata

Perhitungan pajak daerah ini, dimana harga jual rumah – Rp 60 juta  X 5 persen. Kalau harga jual rumah sebesar Rp 158 juta – Rp 60 juta, sisanya Rp 98 juta X 5 persen = Rp 4,9 juta pajak yang wajib dibayar pembeli rumah.

“Kita usulkan untuk penghapusan saja, sehingga tidak memberatkan para pembeli rumah, terutama masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Usulan itu telah disetujui Walikota Kupang dan DPRD Kota Kupang, yang akan dituangkan dalam peraturan daerah (Perda) dan peraturan walikota (Perwali) nanti,” paparnya.

Melalui program rumah bersubsidi ini juga, dapat menekan angka kemiskinan.  Jadi, kalau seseorang tidak memiliki rumah, maka angka kemiskinan tetap saja ada. “Saya juga ditugaskan Gubernur NTT melalui program rumah bersubsidi ini bisa menekan angka kemiskinan di NTT. Sebab, dari 16 indikator kemiskinan, 9 indikator diantaranya berhubungan dengan rumah,” pungkasnya. (ade)