Keluarga,Lingkungan Pertama Bentuk Karakter Anak

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Marianus Mau Kuru, SE, M.PH pada peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXVI Tahun 2019 kembali mengingatkan kepada masyarakat bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak bangsa dan kehidupan bernegara.

Hal itu disampaikan Marianus kepada wartawan usa memimpin upacara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXVI Tahun 2019 di halaman Kantor Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (28/6/2019).

“Sebagaimana diketahui, setiap tanggal 29 Juni kita memperingati Hari Keluarga Nasional sejak tahun 1993. Hal ini kita laksanakan sesuai amanat Keputusan Presiden Nomor : 39 Tahun 2014 tentang Harganas,” jelas dia.

Mengapa presiden mengeluarkan Kepres, kata Marianus, karena pemerintah menyadari pentingnya lembaga keluarga dalam membangun suatu bangsa. Sebab, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak.

Baca juga :  PLN Amankan Kunjungan Sehari Presiden Jokowi di Labuan Bajo

Terkait dengan itu, ada 8 fungsi keluarga, yakni fungsi agama, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi ekonomi, fungsi pendidikan, fungsi reproduksi, fungsi sosial budaya, dan fungsi lingkungan.  Melalui 8 fungsi keluarga itulah, ia berharap, setiap keluarga mengetahui, memahami, dan melaksanakan dengan mengingat setiap fungsi tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Melalui 8 fungsi keluarga itu, ia percaya akan tumbuh anak-anak bangsa Indonesia yang memiliki karakter kuat dan kepribadian terpuji , apa lagi dalam situasi dan kondisi yang serba transparan saat ini.

Oleh karena itu, pada peringatan Harganas Tahun 2019 dan seterusnya nanti, pemerintah mengharapkan pelaksanaannya tepat tanggal 29 Juni, sebagaimana amanah Perpres No.39 Tahun 2014.

Hal tersebut dimaksudkan agar Harganas lebih membumi secara bertahap, lebih dirasakan nuansa cinta kasih, dan sayang antara anggota keluarga, sehingga makna Harganas benar-benar dapat dirasakan oleh keluarga-keluarga di masyarakat.

“Betapa indahnya, apabila pada saat ini kita antar anggota keluarga, ayah, ibu bersama anak-anak dan anggota keluarga lainnya, antar tetangga, antar pegawai pemerintah dan swasta, anak remaja, generasi muda sampai lansia saling berjabatan tangan, berangkulan dengan senang hati dan ikhlas memberikan salam dengan mengucapkan selamat hari keluarga,” ajaknya.

Baca juga :  Presiden Jokowi Apresiasi Simulasi Bencana di Labuan Bajo

Marianus mengatakan, kehadiran revolusi industri 4.0 turut memberikan dampak pada perubahan lingkungan strategis yang mempengaruhi peran keluarga, masyarakat dan dunia pendidikan dalam menumbuhkan karakter bangsa .

Era industri 4.0, lanjutnya, memiliki potensi luar biasa dalam kehidupan manusia mulai dari urusan pribadi hingga bangsa. Revolusi modern ini menjadi harapan sekaligus tantangan keluarga Indonesia.

Dalam era ini keluarga dituntut untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi yang berkembang dan mempengaruhi anggota secara struktural maupun kultural.

Peringatan Harganas tahun ini, menurut dia, masih sama dengan sebelumnya karena mengedepankan keikutsertaan keluarga dan mencerminkan penerpan 4 pendekatan ketahanan keluarga, yakni keluarga berkumpul (reuniting), keluarga berinteraksi (interacting), keluarga berdaya (empowering), keluarga peduli dan berbagi (sharing and caring).

Baca juga :  PLN Resmikan Gedung Control Center pada Peringatan Hari Listrik Nasional Ke-75 di NTT

Salah satu kegiatan yang digalakan dalam momentum Harganas XXVI Tahun 2019 adalah gerakan kembali ke meja makan dan gerakan tidak melihat media sosial dan televisi sejak pukul 18.00-21.00 Wita atau disebutkan gerakan 1821.

Dengan maksud mulai jam 6 sore hingga jam 9 malam diinfokan kepada anggota keluarga secara bersama-sama melakukan aktivitas yang mengarah pada nuansa kebersamaan. Misalnya, bagi yang muslim menjalankan sholat, bagi yang beragama katolik berdoa angelus dilanjutkan makan malam, belajar atau berdiskusi antar anggota keluarga, sehingga terciptanya suasana kekeluargaan di rumah. (ade)