Upah Guru Honor SDI Sikumana 3 Kota Kupang Hanya Dibayar Rp 250.000

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Upah 12 guru honorer Sekolah Dasar Inpres (SDI) Sikumana 3 Kota Kupang hanya dibayar sebesar Rp 250.000 per bulan dari sebelumnya dibayar Rp 700.000 – Rp 800.000 per orang per bulan.

Penurunan pembayaran upah guru honorer itu  terhitung sejak Januari 2019 atau sejak sekolah itu dipimpin Kepala SDI Sikumana 3 Kota Kupang, Johanis Zacharias.

“Pembayaran upah guru honorer itu kita berpatokan pada petunjuk teknis (Juknis) dana bantuan operasional sekolah (BOS) Tahun 2019,” terang Kepala SDI Sikumana 3 Kota Kupang, Johanis Zacharias kepada wartawan di Kupang, Kamis (16/5/2019).

Ia menjelaskan, dalam Juknis mengatur dua ketentuan, dimana 15 persen untuk pembayaran pegawai, 20 persennya untuk pembelajaan buku siswa atau buku teks pelajaran, 75 persennya diberikan kepada pihak sekolah dan guru- guru untuk mengatur secara kekeluargaan di sekolah.

Idealnya, menurut dia, pencairan dana BOS itu sesuai jumlah siswa yang ada. Sementara jumlah siswanya sebanyak 448 orang, sedangkan dana BOS yang dicairkan hanya diperuntukan 370 lebih siswa dengan besaran Rp 800.000 per siswa per tahun.

Baca juga :  Presiden Jokowi Kembali Kunker ke Labuan Bajo

“Dari dana yang cair itu, kita ambil 15 persen untuk pembayaran guru honorer. Sebelum membayar, kami melakukan rapat bersama dewan guru, baik guru PNS maupun guru honorer dengan Manajer dana BOS Kota Kupang. Dalam rapat itu, kami bertanya apakah pembagian honor guru berdasarkan jumlah siswa yang riil atau berdasarkan jumlah siswa yang menerima dana BOS, jawab Manajer dana BOS Kota Kupang saat itu, dibayar sesuai Juknis atau berdasarkan dana yang cair. Kalau berdasarkan dana yang cair, maka diambil 15 persen dari 370  lebih siswa yang menerima dana BOS,” jelas Johanis.

Selanjutnya, ia melakukan rapat internal dengan teman-teman guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan guru honorer di sekolahnya, untuk menanyakan apakah pembayarannya berdasarkan lama honor seseorang atau dibagi rata. Mayoritas guru menjawab kala itu, membagi rata. Sehingga dari dana yang masuk dibagi 12 guru honorer masing-masing mendapatkan sebesar Rp 250.000/bulan per orang, sebut dia.

Baca juga :  Ribuan Pendukung Antar Paket Edi-Weng Daftar di KPU Mabar

Karena sekolahnya adalah sekolah negeri, maka sumber anggaran untuk pembayaran guru honorer murni dari dana BOS bukan uang komite sekolah.  Kalau 448  siswa itu menerima semua dana BOS, maka upah honorernya, menurut dia,  bisa mencapai Rp 350.000 per orang per bulan.

Ketika ditanya mengapa pada kepemimpinannya membayar upah tenaga guru honorer sekecil itu, padahal zaman kepemimpinan sebelumnya membayar upah guru honorer berkisar antara Rp 700.000 – Rp 800.000 per orang per bulan, Johanis tidak bisa menjawabnya.

Untuk membantu biaya tambahan bagi rekan-rekan guru honorer, ia lebih banyak melakukan kegiatan ekstra kurikuler (Ekskul) dengan melibatkan guru-guru honorer dalam kepanitian yang sumber anggarannya diambil dari 75 persen dana BOS yang ada.

“Jadi bukan saya yang kasi turun angka uang upah guru honorernya, tetapi Juknis dana BOS Tahun 2019  yang mengisyaratkan itu,” tandasnya. Tahun 2018 kemarin, menurut dia, pembayarannya masih dibedakan antara sekolah negeri dengan sekolah swasta, tetapi tahun ini diperlakukan sama.

Baca juga :  Pemprov NTT Berkomitmen Wujudkan Sumba Sebagai Pusat Energi Baru dan Terbarukan

Kecuali, ujar dia, tenaga honorernya hanya dua orang, maka mereka bisa menerima upah mendekati Upah Minimum Kota (UMK) Kupang sebesar Rp 1,5 juta per orang per bulan.

Lalu solusinya seperti apa, lanjut dia, lebih banyak guru honorer dilibatkan dalam kepanitian kegiatan Ekskul, sehingga ada biaya tambahan. Sedangkan kalau diberhentikan sebagiannya, bagi dia, tidak bisa, karena sekolahnya masih kekurangan guru PNS. (ade)