OMK Motori Jalan Salib di Stasi St. Kristoforus Matani

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Jalan Salib di Stasi St. Kristoforus Matani yang dimotori Orang Muda Katolik (OMK) St. Kristoforus Matani, Jumat, 19 April 2019 dimulai tepat jam 08.00 Wita.

Dalam suasana hening di bawah teriknya matahari, ratusan umat Katolik di Stasi St. Kristoforus Matani mengikuti prosesi jalan salib kesesangsaraan Yesus Kristus mulai dari perhentian I hingga perhentian ke-XIV.

Perhentian I, Yesus Dijatuhi Hukuman Mati, perhentian II, Yesus Memanggul Salib, perhentian III, Yesus Jatuh Pertama Kali, perhentian IV, Yesus Bertemu Maria, IbuNya,  dan perhentian V, Yesus Ditolong Oleh Simon dari Kirene.

Selanjutnya, perhentian VI, Veronika Mengusap Wajah Yesus, perhentian VII, Yesus Jatuh Kedua Kalinya, perhentian VIII, Yesus Menasehati Para Wanita Yang Menangis, perhentian IX, Yesus Jatuh Ketiga Kalinya, perhentian X, Pakaian Yesus Ditanggalkan, perhentian XI, Yesus Dipaku Pada Salib, perhentian XII, Yesus Wafat di Salib, perhentian XIII, Jenazah Yesus Diturunkan dari Salib, dan perhentian XIV, Jenazah Yesus Dimakamkan.

Baca juga :  Pemkab Kupang dan Alfa Omega Tandatangan MoU Proyek Envision

Seperti disaksikan wartawan media ini, saat perhentian XIII, Yesus Wafat di Salib, semua umat mengucapkan doa, ya Yesus yang Mahabaik, tidak ada cinta yang lebih besar daripada cinta seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.

Demikian besar cinta-Mu kepada kami, sehingga Engkau rela berkorban menyerahkan nyawa-Mu demi keselamatan kami.

Kami menyesal, karena kami tidak mampu tinggal dalam kasih yang memaafkan. Tolonglah kami untuk berkurban bagi Engkau dan sesama melalui kesaksian hidup kami.

Umat Katolik Stasi St. Kristoforus Matani berdoa sambil berlutut saat memasuki perhentian XII, Yesus Wafat di Salib pada prosesi jalan salib, Jumat (19/4/2019)

Di penghujung jalan salib itu, semua umat mengucapkan doa, melalui jalan salib Yesus Kristus, bangkitkan di dalam hati kami semangat untuk membuka diri demi membangun kesadaran hati yang peka terhadap sesama yang menderita dan terhadap alam “rumah kami “ bersama ini.

Berkatilah persekutuan kami ini, agar kami semakin membaktikan diri kepada panggilan dan pelayanan terhadap sesama, baik di lingkungan Kelompok Umat Basis (KUB), stasi, maupun paroki kami.

Semoga tuntutan Roh Kudus-Mu senantiasa memberanikan kami menjadi pribadi-pribadi yang menghargai komunikasi yang positif dan keutuhan alam ciptaan.

Baca juga :  Kembangkan Destinasi Wisata Minat Khusus, BOP-LBF Bangun Kerjasama dengan MPIG

Semoga lewat sengsara Yesus, kami semakin menghargai arti penting kehadiran-Mu dalam hidup kami, yaitu melalui kehadiran sesama yang dapat kami sentuh  dan kami sapa.  Jauhkan kami dari pemahaman dan praktek literasi komunikasi yang tidak bermanfaat, agar relasi dan keutuhan ciptaan tetap lestari dan utuh.

Sepanjang perjalanan salib itu,  Alfons, salah satu OMK St. Kristoforus Matani berperan sebagai Yesus Kristus dengan memanggul salib ke Bukit Golgota, dan Rati Wolo berperan sebagai Bunda Maria yang adalah Ibu Yesus.

Setiap memasuki perhentian, umat selalu berlutut untuk memohon ampun kepada Tuhan Yesus atas segala dosa yang telah diperbuatnya sambil diiringi lagu-lagu rohani Katolik bernuansa kesengsaraan Yesus.

Prosesi jalan salib di Stasi St. Kristoforus Matani

Ketua Orang Muda Katolik (OMK) St. Kristoforus Matani, Jero Sklarianto Brahmayasa saat diminta komentarnya terkait persiapannya pada  prosesi jalan salib di Stasi St. Kristoforus Matani tahun ini mengatakan, persiapannya sudah matang.

Menurut dia, memang agak sulit menghimpun teman-teman OMK-nya karena semuanya punya kesibukan masing-masing. Tetapi, berkat pertolongan Tuhan Yesus, semuanya bisa disatukan, sehingga prosesi jalan salib itu berjalan lancar, aman dan tertib.

Baca juga :  Haji Asis: Nomor Urut 02, Simbol Keberkahan dan Kedamaian

Kepada OMK, ia menghimbau, untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan lewat perbuatan nyata bagi sesama dan melibatkan diri di berbagai kegiatan rohani, mulai dari tingkat Kelompok Umat Basis (KUB), stasi sampai pada tingkat paroki.

“Jangan menghabiskan waktu untuk bermain  WhatsApp, Facebook, Twiter dan Instagram.  Tetapi, dekatkan dirimu dengan gereja. Sebab, untuk menjadi calon pemimpin atau pengurus  gereja ke depan, minimal memiliki pengalaman organisasi sejak usia muda,” imbuhnya. (ade)