PEMILIHAN Umum (Pemilu) yang dilangsungkan,  17 April 2019 tinggal beberapa hari lagi. Sebagai penyelenggara Pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Bawaslu untuk lebih aktif melakukan sosialisasi dan pendidikan politik kepada masyarakat. Adanya potensi masyarakat yang akan abai terhadap Pemilu yang akan datang, hal ini menjadi tantangan KPU dan Bawaslu untuk terus melakukan sosialisasi dan pendidikan politik warga yang bekerja sama dengan dunia perguruan tinggi, LSM dan Ormas keagamaan yang ada.

Hal tersebut agar partisipasi warga dalam Pemilu bisa lebih baik. Mereka yang tidak bisa membaca dan menulis dan hanya mengenal gambar serta angka, tentu  menjadi problem bersama di samping karena alasan enggan datang  ke TPS karena alasan bahwa Pemilu terbukti tidak membawa perubahan terhadap nasib mereka. Di mana mereka hanya dijadikan alat untuk meraih ambisi kuasa dengan meraup kekayaan dari uang negara, tentu problem ini lebih pada tugas partai politik untuk membangun integritas dengan menyodorkan calon anggota legislatif (Caleg) berkuaitas.

Oleh karena itu untuk menuju Pemilu dan demokrasi bermartabat, berikut beberapa komponen penting untuk saling dijaga dan dipahami calon pemilih (masyarakat), partai politik, pemerintah dan penyelenggara Pemilu, yaitu KPU dan Bawaslu antara lain.

  1. Memahami pentingnya Pemilu. Hal ini penting terus disosialisasikan pihak terkait seperti KPU dan Bawaslu sebagai penyelenggara Pemilu baik melalui tatap muka seperti diskusi, seminar dan lain sebagainya ataupun melalui media cetak, Medosos dan media lain yang memungkinkan dapat menyampaikan arti penting Pemilu.
Baca juga :  Peran dan Nilai Pendidikan Guru Penggerak

Yang terjadi, jangan justru pihak calon yang sering bersosialisasi dengan memasang gambar, baliho dan poster di jalan, sementara pihak penyelenggara pasif, minim sosialisasi dengan alasan minimya anggaran untuk hal tersebut. Dalam hal ini, lapisan masyarakat yang harus terkena efek dari kegiatan sosialisasi akan pentingnya Pemilu yaitu para pemilih pemula yakni kalangan remaja sebagai agen perubahan.

  1. Mengenali calon secara baik. Mereka yang berlaga dan berkontestasi harus dapat dikenali masyarakat. Ada banyak sisi yang harus diketahui masyarakat terhadap calon yang akan dipilih. Di antaranya visi misi, tujuan atau motivasi, keseharian (menyangkut perilaku sehari-hari), pendidikan, dan integritasnya. Dengan mengenali calon secara baik, output Pemilu kali ini akan menghasilkan (melahirkan) peminpin kridibel dan bertanggung jawab.
  2. Hindari provokasi, adu domba antara pemilih apalagi menyebar kabar hoaks dengan tujuan meraih kemenangan. Cara-cara yang tidak bermartabat dalam meraih kemenangan hanya menyisakan kesengsaraan terutama bagi masyarakat. Bahwa Pemilu harus dimaknai kontestasi, adu strategi dan adu visi-msi, namun tetap mengedepankan etika dan menjaga sportifitas bersama. Tanpa harus melakukan segala cara untuk meraih kemenangan.
  3. Datang ke TPS sebagai bentuk partisipasi dan tanggung jawab bersama. Karena Pemilu merupakan agenda bersama, di mana kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat (masyarakat), maka menjadi wajib hukumnya secara perorangan untuk dapat menyalurkan suara dengan mendatangi TPS. Di situlah perubahan, perbaikan dan tatanan yang lebih baik dipertaruhkan demi menjaga kelangsungan bangsa dan negara.
Baca juga :  Peran dan Nilai Pendidikan Guru Penggerak

Karena itulah pilihan politik warga menjadi sebuah keniscayaan yang harus dijaga secara baik. Perbedaan pilihan calon dan partai tidak boleh menjadi pemicu adanya perpecahan dan konflik yang berkepanjangan. Larut dalam perpecahan bisa berakibat runtuhnya kepercayaan publik terhadap Pemilu yang dikembangkan melalui sistem demokrasi.

Pemilu sangat penting dalam kehidupan suatu negara, setidaknya lantaran dua alasan: Pertama, melalui Pemilu memungkinkan suatu komunitas politik melakukan transfer kekuasaan secara damai karena pemerintah/penguasa perlu diganti secara periodik untuk memberi kesempatan kepada pihak lain untuk mendudukinya. Tentunya banyak pihak lain yang juga menginginkan menjadi penguasa, dan Pemilu merupakan sarana yang efektif untuk melaksanakannya.

Alasan kedua, akan tercipta kelembagaan konflik. Karena melalui Pemilu, memungkinkan pihak yang berkonflik menahan diri dan memanfaatkan Pemilu sebagai sarana berkonflik. Para pihak yang berkepentingan akan lebih berkosentrasi dalam menghadapi Pemilu daripada menggunakan kekerasan fisik dalam berkonflik dengan penguasa.

Baca juga :  Peran dan Nilai Pendidikan Guru Penggerak

Semoga Pemilu yang akan datang berjalan penuh martabat, masyarakat damai, berdaulat dan akhirnya demokrasinya bermartabat. (***)