Siswa Mengaku UNBK Matematika Sulit

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com-  Dari dua mata pelajaran yang sudah diuji dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMA tahun ini menurut siswa yang paling sulit soalnya adalah Matematika yang diuji pada hari kedua, Selasa (2/4/2019).

Sedangkan mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diuji pada hari pertama, Senin (1/4/2019), menurut siswa hanya beberapa soal saja yang dianggap sulit, tetapi kalau dikerjakan secara teliti masih bisa dijawab.

Demikian intisari pengakuan ketiga siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 7 Kupang, yakni Grace Sani Naitasi (Kelas XII IPA I), Intan Indah Sari Lisnahan (Kelas XII IPA 4), dan Asri Anastasia Sulumasi (Kelas XII IPA 5) saat ditemui wartawan media ini usai UNBK hari kedua di sekolahnya, Selasa (2/4/2019).

Kepada wartawan media ini, Asri mengatakan, ujian hari pertama, Bahasa Indonesia  sebanyak 50 soal  dalam bentuk pilihan ganda atau obyektif.  Dari 50 soal itu, sekitar belasan soal, menurutnya, sulit karena semuanya dalam bentuk wacana yang panjang.

“Karena ceritanya terlalu panjang, sehingga kami sulit memahami maknanya,” kata Asri. Menurut dia, memang ada kemiripan soal-soal yang diajarkan selama bimbingan belajar (Bimbel) dan simulasi di sekolahnya, tetapi sebagai manusia dirinya juga memiliki keterbatasan kemampuan  untuk menangkap semua apa sudah diajarkan gurunya.

Walaupun soalnya sulit, namun ia tetap berusaha untuk menjawabnya dengan baik.  Selanjutnya hari kedua, mata pelajaran Matematika sebanyak 40 nomor meliputi, 36 nomor pilihan ganda dan  4 nomor isian.

Kata Asri, soal-soalnya memang pernah diajarkan selama Bimbel, dan simulasi, hanya saja saat mengerjakan lupa kembali rumusnya. Sesulitan apapun soalnya, dia tetap mengisi semua jawaban yang ada.

Baca juga :  Pemprov Jateng Bantu Para Korban Bencana Alam di NTT
Ketiga peserta UNBK SMAN 7 Kupang ini mengaku soal mata pelajaran Matematika cukup sulit dibanding Bahasa Indonesia.

Sedangkan bagi Grace Sani Naitasi, untuk soal ujian Bahasa Indonesia pada hari pertama sangat mudah. Hanya saja wacananya cukup panjang  sehingga  menghabiskan waktu untuk membaca.

“Harus kita membaca wacananya berulangkali secara teliti dan memahami isi ceritanya dulu  baru menjawab,” kata Grace. Ditanya apakah durasi waktunya terlalu cepat, menurut Grace, 120 menit waktu yang disediakan  untuk Bahasa Indonesia  cukup.

Untuk ujian mata pelajaran Matematika pada hari kedua, lanjutnya lagi,  ada beberapa soal yang mirip saat diajarkan gurunya selama Bimbel dan simulasi, sehingga dengan mudah dijawab.

Tetapi, ada beberapa soal juga yang dinilainya sulit. Misalnya, dalam bentuk cerita yang panjang, sehingga membutuhkan waktu yang cukup untuk membaca dan berpikir baru menjawab.

“Untuk memastikan jawaban yang benar, saya harus membutuhkan waktu yang cukup untuk berpikir. Kalau terburu-buru, bisa saja jawabannya salah. Semuanya sudah diajarkan guru hanya saja kemampuan personal kami dalam berpikir saja yang lambat,” akuinya.

Bagi Grace, dari kedua mata pelajaran yang sudah diuji, untuk Bahasa Indonesia, dirinya yakin bisa memperoleh nilai 8, sedangkan nilai Matematika berkisar antara 5-6.

Hal yang sama juga dirasakan Intan Indah Sari Lisnahan, dimana mata pelajaran Matematika memang soalnya sulit dibanding Bahasa Indonesia.  Untuk soal Bahasa Indonesia, ceritanya saja yang panjang, sehingga membutuhkan waktu untuk membaca dan memahami isinya baru menjawab.

Baca juga :  Semua Komponen Harus Bersinergi Siap Siaga Mengantisipasi Bencana Alam dan Karhutla

Dicontohkannya, ada dua teks yang membutuhkan jawaban perbedaan dan persamaan. “Jadi, kita harus membacakan teks yang pertama dulu, baru membaca teks kedua untuk melihat dimana letak perbedaan dan persamaannya. Kebanyakan waktu habis hanya membaca teks,” cerita Intan.

Untuk Matematika, menurut dia, waktu yang disediakan cukup lama. Tetapi, memang rumus-rumusnya sangat sulit,  sehingga jawabannya juga  direka-reka saja. Intan mengaku, sekitar belasan nomor yang dirasakannya sulit.

Secara tehnis, ketiga siswi ini mengaku, selama dua hari pelaksanaan UNBK di sekolahnya, hanya pada hari pertama di ruangan dua saja yang servernya error, dan sekitar 5 menit kemudian langsung teratasi atau kembali normal.

 Laptop yang dipasang di ruangan dua itu, menurut mereka, kebanyakan pinjaman dari orangtua siswa, sehingga tingkat errornya tinggi. Namun, semuanya sudah teratasi. Sementara dari sisi jaringan internet, dan listrik, menurut ketiga anak ini, tidak ada masalah.
Ada Kemiripan Soal
Drs. Vinsensius Sasi,M.Pd

Secara terpisah, Kepala SMAN 7 Kota Kupang,  Drs. Vinsensius Sasi,M.Pd mengaku, dua mata pelajaran UNBK yang sudah diuji, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika memiliki kemiripan soal yang pernah diajarkan guru selama Bimbel, dan simulasi di sekolahnya.

Kalaupun ada beberapa siswa yang mengaku masih sulit, bagi dia, itu adalah wajar-wajar saja sebagai manusia karena kemampuan daya tangkap setiap siswa itu jelas berbeda. “Menurut siswa yang satu soalnya sulit. Tetapi, menurut siswa lainnya mungkin saja merasa gampang. Semuanya tergantung pada kemampuan daya tangkap anak,” jelas Vinsen.

Baca juga :  Pentingnya Kolaborasi Keberhasilan Program TJPS

Secara umum pelaksanaan UNBK mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika selama dua hari di sekolahnya berjalan aman dan lancar. Kecuali, pada hari pertama di ruangan II ada kemacetan server sedikit, tetapi dalam tempo 5 menit berikutnya  sudah kembali normal.

Ia berharap, pelaksanaan UNBK hari ketiga dan keempat nanti tetap berjalan lancar, dan tidak ada gangguan tehnis, seperti jaringan internet, komputer/laptop dan jaringan listrik di sekolahnya.

Ia juga berharap, dengan persiapan anak-anak  dalam bentuk Bimbel sejak Oktober 2018 sampai dengan 30 Maret 2019, semoga mendatangkan hasil yang memuaskan bagi semua anak.

Tahun ini, jumlah siswa yang mengikuti UNBK di sekolahnya sebanyak 326 orang dibagi dalam tiga sesi di tiga ruang laboratorium komputer sekolah tersebut.  Sesi pertama dan kedua masing-masing 110 orang,  dan sesi ketiga, 106 orang dengan komposisi siswa berkisar antara 36 – 37 orang per ruangan.

Pelaksanaan UNBK di sekolah itu didukung dengan kekuatan 120 unit komputer/laptop plus 4 unit server. Dari 120 unit komputer/laptop itu, ujar dia, yang dimiliki sekolah hanya 46 unit komputer. Sedangkan selebihnya dipinjam dari orangtua siswa dan para guru.(ade)