Akibat Banjir dan Longsor, Mabar Dipastikan Gagal Panen Tahun 2019

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Penyuluhan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Miqdonth Abolla  memastikan tahun 2019 ini masyarakat Manggarai Barat (Mabar) mengalami gagal panen.

“Akibat longsor dan banjir bandang yang melandai daerah itu, saya pastikan tahun 2019 ini masyarakat Mabar mengalami gagal panen, terutama padi sawah,” kata Abolla saat ditemui wartawan media ini di kantornya, Selasa (19/3/2019).

Laporan terbaru yang diterimanya dari Kepala Dinas Pertanian Manggarai Barat, Anggalinus Dapul, Selasa (19/3/2019)  lahan pertanian yang paling parah tertimbun lumpur dan material lainnya itu terdapat di Kecamatan Komodo dengan rincian, tanaman padi sawah, 569 hektar, tanaman jagung, 4 hektar lebih, 1.025 rumpun pohon pisang,  sayur-sayuran, dan 18 unit hand traktor terbawa banjir.

Baca juga :  Wagub NTT : Jaga Habitat Komodo Menjadi Lebih Modern dan Menarik

Diikuti Kecamatan Mbeliling, 99  hektar  tanaman padi sawah, tanaman  fanili, 13 hektar,  tanaman kopi, 3 hektar, tanaman kakao, 29 hektar, tanaman cengkeh, 21 hektar, dan tanaman kemiri, 25 hektar.

Selanjutnya,  Kecamatan Macang Pacar, 40-an rumpun pohon pisang, tanaman padi sawah, 61 hektar, dan  sejumlah tanaman  kelapa lainnya.  Sementara Kecamatan Boleng  hanya tanaman padi sawah, 3 hektar lebih dan Kecamatan Sano Nggoang, 31 hektar padi sawah.

Tanaman yang rusak itu, rata-rata karena tertimbun lumpur dan material lainnya, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk pembersihan.  “Yang masih bisa ditanam, kita sudah sepakat dengan pemerintah pusat (Pempus) untuk siap membantu dalam bentuk benih. Kecuali, yang fisiknya rusak parah, maka Organisasi Perangkat Daerah (OPD) duduk bersama untuk mencari solusinya,” kata Abolla.

Baca juga :  Tahun 2020, Realisasi Fisik Jalan Provinsi di Dinas PUPR NTT Capai 85 Persen

Sementara daerah lain di NTT, lanjut dia,  paling banyak yang dilaporkan hanya serangan hama, seperti di Kabupaten  Timor Tengah Utara (TTU), hama ulat, dan sudah teratasi. Begitupun   di Kabupaten Kupang terserang hama wereng sudah teratasi.

“Sedangkan Kabupaten Malaka, yang kita kwatirkan banjir, tetapi puji Tuhan belum  ada lahan pertanian yang tertimbun lumpur dan material lainnya, kecuali serangan hama dan tim sudah turun ke sana.  Mudah-mudahan dalam waktu 1-2 hari ke depan sudah teratasi,” harapnya. (ade)