Delapan Korban yang Tewas Tertimbun Longsor di Mabar Semuanya Telah Ditemukan

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com – Delapan korban yang tewas tertimbun longsor di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah ditemukan semua pada Minggu, 10 Maret 2019.

Delapan korban yang ditemukan meninggal dunia itu, yakni Hironimus, Ardus, Remi, Fransiska Sera, Paulinus, Sisilia, Nelty, dan Hillariana Jelita Mensa, sebut Thomas Bangke, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi  NTT usai memantau para  korban bencana longsor dan banjir bandang di Manggarai Barat kepada wartawan di Kupang, Selasa (12/3/2019).

Terhadap kondisi itu, Bupati Manggarai Barat telah menetapkan status darurat sejak 8 – 22 Maret 2019 yang dituangkan dalam keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor : 61/Kep/HK/2019 tentang penetapan status keadaan darurat bencana banjir, longsor dan naiknya permukaan air laut di Kabupaten Manggarai Barat.

Thomas menyebutkan, ada 12 kecamatan yang terkena dampak dari bencana longsor dan banjir bandang yang terjadi di  Mabar pada hari Kamis, 7 Maret 2019 pagi lalu itu.  Dari 12 kecamatan itu, yang paling parah, 2 kecamatan, yakni  Kecamatan Mbeliling dan Kecamatan Komodo.

Baca juga :  Tahun 2021, UPTD Bahasa NTT Fokus Pada Penguatan Literasi

Kecamatan Mbeliling meliputi dua desa, yakni Desa Tondong Belang dan Desa Liang Dara. Sedangkan Kecamatan Komodo meliputi, Desa Macang Tanggar, 91 kepala keluarga (KK) atau 452 jiwa,  Desa Nggorang, 99 KK (456 jiwa), Desa Watu Nggelek, 163 KK (682 jiwa), Desa Gorontalo, Desa Pantar, Desa Golo Bilas, dan Desa Compang Longgo, 315 KK (1.298 jiwa).

Masyarakat yang terkena dampak longsor dan banjir masih mengungsi di Kantor Bupati Mabar, 360 jiwa dan  kebanyakan pengungsi dari Desa Gorontalo, dan lokasi pengungsian sementara di Balai Desa Macang Tanggar, 136 jiwa.

Sementara warga Desa Melo dan Desa Liang Dara, Kecamatan Mbeliling yang terkena dampak bencana longsor dan banjir itu untuk sementara mengungsi di Kapela Melo, Desa Melo sebanyak, 287 jiwa. Ratusan kepala keluarga lainnya mengungsi di rumah keluarganya masing-masing.

Kondisi terkini di lokasi bencana, dimana curah hujan masih tinggi, dan diperkirakan sampai pertengahan bulan Maret 2019 baru berhenti. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan tim pertolongan dan penyelamatan di lapangan, kata Thomas, potensi longsor susulan masih dimungkinkan terjadi.

Baca juga :  Daniel : Terima Kasih BWS NT II Telah Membangun Sumur Bor di Desa Bokong

Khusus untuk Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, lanjut dia,  masih terisolasi, sehingga akses jalan masuk untuk mengirimkan bantuan logistik kepada para korban  dengan kendaraan sangat sulit, sehingga terpaksa berjalan kaki sambil memikul bantuan logistik yang ada.

Dua Minggu Kembali Normal
EKSKAVATOR – Salah satu ekskavator dari arah Ruteng tengah melakukan pembersihan tumpukan longsor di Jalan Trans Flores lintas Labuan Bajo – Ruteng, Sabtu (9/3/2019) (Foto: Alfons Afarete Ngajar/NTT PEMBARUAN.com)

Secara terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten  Manggarai Barat (Mabar), Ir. Oktovianus Andi Bona  yang dihubungi media ini melalui WhatsApp (WA) sebelumnya berjanji, Jalan Trans Flores yang saat ini putus total akibat terkena dampak bencana longsor dan banjir bandang itu akan kembali normal sekitar dua minggu ke depan.

Pihaknya, terus berupaya untuk melakukan pembersihan di Jalan Nasional lintas Trans Flores dengan mengerahkan  enam alat berat sejenis ekskavator ke lokasi bencana longsor di 17 titik longsoran dan patahan di Kabupaten Manggarai Barat sejak tanggal 7 Maret 2019 lalu hingga saat ini.

Baca juga :  KPU Sumba Barat Tetapkan 82.649 Pemilih Tetap

Enam alat berat yang melakukan pembersihan di sepanjang Jalan Nasional yang terkena tumpukan longsoran tanah itu masing-masing dari arah Ruteng, 3 alat berat dan dari arah Labuan Bajo, 3 alat berat.

“Jalan kabupaten  banyak yang terkena  longsor dan putus total,  saya baru bisa selesaikan jalan kabupaten setelah penanganan jalan nasional selesai. Saat ini, kami masih fokus menangani Jalan Nasional  yang menghubung Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat  – Ruteng, Kabupaten Manggarai dan sejumlah kabupaten lainnya di Wilayah Flores,”  kata Bona. (ade)