Kejar Target, Pembangunan NTT Fair Dikerjakan 24 Jam

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com-  Untuk mengejar target, pihak perusahaan yang memenangkan tender Pembangunan NTT Fair memberlakukan jam kerja selama 24 jam dengan sistem dua shift.

Shift pertama dari jam 08.00 pagi hingga pukul 22.00 Wita (jam 10.00 malam) dilanjutkan shift kedua, dari pukul 22.00 Wita (jam 10.00 malam) hingga jam 08.00 pagi. Pola kerja seperti ini sudah berjalan sejak Sabtu, 2 Maret 2019 lalu.

Selain itu, pihak perusahaan juga menambah tenaga kerja teknisi sebanyak 100 orang yang didatang dari Jawa, sehingga total dengan tenaga kerja yang ada sekarang sebanyak 180-an orang.

“Kami optimis, dengan sistem kerja 24 jam dan penambahan tenaga kerja itu, maka sampai dengan tanggal 31 Maret 2019 masa akhir adendum tahap kedua ini bisa rampung hingga atap,”janji Project Manager  PT. Cipta Eka Puri, Widiyanto didampingi Pelaksana Lapangan PT. Cipta Eka Puri, Bagio Sugianto kepada wartawan di lokasi proyek tersebut, Senin (4/3/2019).

Baca juga :  Basarnas Kupang Berhasil Evakuasi Kapal Penampung Ikan yang Mengalami Lost Contact

Jika mengacu pada kontrak, pekerjaan ini harusnya selesai 31 Desember 2018 lalu. Namun, karena berbagai kendala yang dihadapi, maka hingga akhir kontrak 31 Desember 2018 lalu itu belum juga rampung 100 persen.

Kemudian dilakukan rapat TP4D yang hasilnya memberi perpanjangan waktu tahap pertama  kepada rekanan untuk melanjutkan pekerjaannya hingga 18 Februari 2019,  tetapi itu pun belum rampung 100 persen juga.

Karena hingga batas waktu yang diberikan belum juga tuntas 100 persen, maka TP4D kembali melakukan rapat, Sabtu (2/3/2019) yang hasilnya masih diperpanjang waktu tahap kedua lagi kepada kontraktor hingga 31 Maret 2019 untuk bisa menyelesaikannya pekerjaannya.

Menurut Widiyanto, keterlambatan penyelesaian pekerjaan itu karena berbagai kendala, selain pergantian manajemen perusahaan selama tiga kali, juga masalah kekurangan tenaga kerja, hari libur, dan kekurangan material.

Baca juga :  New Normal, Gubernur NTT : Tidak Melarang Untuk Pesta

“Awalnya, yang bekerja di sini adalah orang lokal.  Pada bulan Oktober 2018, kami rombak sistem itu dengan komposisi, 60 persen tenaga teknisi dari Jawa, dan 40 persen tenaga kerja lokal dan itu sesuai amanat UU Ketenagakerjaan,” jelas dia.

Kendala lain, pada perayaan Natal 25 Desember 2018 dan Tahun Baru, 1 Januari 2019 semua pekerja diliburkan. Berikutnya, masalah cuaca seperti hujan, angin dan petir yang membuat pekerja berhenti sementara bekerja.

Sedangkan persoalan material, menurut dia, kebanyakan material didatangkan dari luar NTT, seperti eskalator dan  granik didatangkan dari Cina. Aluminium dan besi-besi didatangkan dari Surabaya. Kecuali semen menggunakan Semen Kupang dan pasir lokal asal Takari.

Baca juga :  Desain Penanganan Sampah di Kota Kupang Harus Jelas

Khusus untuk eskalator, lanjutnya lagi, sementara dalam perjalanan dari Jakarta menuju Kupang via kapal laut yang membutuhkan waktu selama tujuh hari baru sampai di Pelabuhan Tenau Kupang. Setelah tiba di Kupang, membutuhkan waktu satu minggu lagi untuk dilakukan perakitan.

Terkait progress terkini, kata Widiyanto, progress sudah mencapai 72 persen lebih. Ia upayakan, sampai dengan tanggal 31 Maret 2019 atap sudah rampung. “Kita bekerja dalam pengawasan TP4D,”tutupnya. (ade)