Tahun 2018, Ekonomi NTT Tumbuh 5,13 Persen

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com – Ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2018 lalu tumbuh sebesar 5,13 persen (q to q). Dari produksi , pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan  minum sebesar 12,16 persen.

Potret pertumbuhan ekonomi NTT  tahun 2018 lalu itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Maritje Pattiwaellapia dalam press realease di Kantor BPS NTT, Rabu (6/2/2019).

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pengadaan listrik dan gas sebesar 11,22 persen. Sedangkan, dari sisi pengeluaran , pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen konsumsi pemerintah yang bertumbuh sebesar 11 persen.

Baca juga :  Sejumlah Rumah Ibadah di Nagekeo Mendapat Suntikan Dana dari Pemkab Setempat

Ekonomi NTT triwulan IV 2018, mengalami pertumbuhan sebesar 0,71 persen dibandingkan dengan triwulan III-2018 (q to q).

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi masih dicapai oleh lapangan usaha pengadaan listrik, dan gas sebesar 10,76 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen konsumsi pemerintah sebesar 4,76 persen.

Sementara struktur ekonomi NTT pada tahun 2018, kata  Maritje, masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan dengan kontribusi sebesar 28,40 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, masih didominasi konsumsi rumah tangga yaitu sebesar 72 persen.

 ITK Triwulan IV-2018 Sebesar 132,50

Secara umum kondisi ekonomi dan tingkat optimisme NTT pada triwulan IV-2018 meningkat dibanding triwulan sebelumnya.  Indeks Tendensi Konsumen (ITK) NTT triwulan IV-2018 sebesar 132, 50 persen.

Baca juga :  PLN Raih Tiga Penghargaan di Ajang BUMN Marketeers Award 2020

Artinya, kondisi ekonomi konsumen meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Kondisi ini didorong oleh peningkatan pendapatan rumah tangga (nilai indeks sebesar 139,47), rendahnya pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi (nilai indeks sebesar 122,99) dan peningkatan volume konsumsi (nilai indeks sebesar 127,96).

Maritje menyebutkan, sebagian besar provinsi di Indonesia mengalami perbaikan kondisi ekonomi konsumen. Provinsi yang memiliki ITK tertinggi adalah NTT (nilai indeks 132,50), sedangkan provinsi yang memiliki nilai ITK terendah adalah Sulawesi Tengah (nilai indeks 98,44).

Selanjutnya, ia mengatakan,  nilai ITK NTT pada triwulan I-2019 diperkirakan sebesar 92,38. Artinya, kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan menurun. Tingkat optimisme konsumen diperkirakan menurun dibandingkan triwulan IV-2018 (nilai ITK sebesar 132,50). (ade)