Ruas Jalan Poros Tengah Matani – Kota Kupang Berlumpur

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Ruas jalan poros tengah Matani, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang  menuju Kota Kupang, Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berlumpur.

Kondisi jalan tanah berlumpur sepanjang kurang lebih 1 kilo meter dari samping Kantor Desa Penfui Timur menuju Angkatan Laut (Lanudal) Penfui Kupang, Bandara El Tari Kupang, dan Kota Kupang ini sudah terjadi sejak tahun 2008 lalu hingga hari ini belum ada perhatian dari pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT.

Jalan itu adalah jalan poros tengah dari Matani menuju Bandara El Tari Kupang, dan Kota Kupang yang merupakan pusat Ibu Kota Provinsi NTT. Saat musim hujan seperti sekarang  ini, masyarakat yang melintasi jalan itu bermandikan lumpur.

Yang lebih parah lagi, ketika anak-anak sekolah dasar (SD) dari Matani yang bersekolah di SDN Balfai Penfui semua sepatu, dan pakaian seragamnya penuh lumpur saat ke sekolah dan pulang sekolah.

Apa lagi, saat mereka jalan tiba-tiba ada mobil lewat, sehingga percikan lumpur yang keluar dari ban mobil itu menyirami ke seluruh pakaian seragam sekolah anak-anak atau warga yang sedang melintasi di jalan itu.

Baca juga :  Jelang Pilkada, Polres Mabar Tingkatkan Koordinasi Pengamanan
Bermandikan Lumpur
Mobil truck milik PT. Bumi Indah saat melintasi jalan poros tengah Matani – Lanudal Penfui Kupang – Bandara El Tari Kupang dan Kota Kupang.

 

Yakomina B. Tefa, Ketua RT 021, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kepada media ini di ruas jalan itu, Rabu (6/2/2019) mengaku, setiap musim hujan warga Penfui Timur yang melintasi jalan itu bermandikan lumpur, dan pada musim panas “makan” debu.

“Sudah 10 tahun, saya berdomisi di Desa Penfui Timur, tetapi kondisi jalannya dari dulu hingga sekarang belum beraspal. Pada musim hujan sekarang ini kami bermandikan lumpur, dan pada musim panas kami “makan” abu,” kata Tefa.

Tefa menyebutkan, pada Tahun 2015 lalu, dari dana desa (DD) Penfui Timur pernah menurunkan tanah putih sepanjang ruas jalan itu. Tetapi, tanah putih yang diturunkan adalah tanah putih berlumpur, sehingga ketika musim hujan tiba jalan itu berlumpur dan licin.

Apa lagi, kalau mobil –mobil truck, seperti mobil truck milik PT. Bumi Indah yang jumlahnya cukup banyak menyangkut tanah putih melewati jalan itu lebih memperparah lumpur di sepanjang jalan tersebut.

Baca juga :  Dirjen KSDAE Apresiasi Kinerja Pemprov NTT

“Saya sendiri pernah melihat anak—anak  SD dari Matani yang bersekolah di SDN Balfai Penfui dari sepatu hingga pakaian seragamnya penuh lumpur kena percikan dari ban mobil truck yang melintasi di jalan itu, sehingga anak-anak pulang rumah lagi  ganti pakaian baru ke sekolah,” cerita Tefa.

Terhadap kondisi  jalan itu, ia pernah menyampaikan kepada Kepala Desa Penfui Timur, dan kepada pegawai dari Provinsi NTT yang pernah datang melihat kondisi jalan itu,  tetapi hasilnya juga nihil hingga hari ini.

Menurut Tefa,  jalan poros tengah Matani – Kota Kupang  ini adalah  jalan utama yang masuk dalam status jalan provinsi . Hampir setiap tahun, ada orang yang  mengukur dan memfoto lokasi jalan tersebut, dan selalu menjanjikan kepada masyarakat akan dikerjakan dalam waktu dekat.

“Tetapi, realitanya kami hanya dikenyangkan dengan janji,  sehingga setiap musim hujan masyarakat bermandikan lumpur dan  pada musim kemarau “makan” debu,” tandasnya.

Awalnya,  jalan sepanjang kurang lebih 1 kilo meter dengan lebar 10 meter itu dibuka secara swadaya oleh masyarakat setempat  mulai dari samping Kantor Desa Penfui Timur menuju Markas Angkat Laut (Lanudal) Penfui Kupang untuk memperlancar arus transportasi darat dari Matani ke Bandara El Tari Kupang, dan Kota Kupang.

Baca juga :  Rentangkan Sayap Organisasi, IMO-Indonesia Kukuhkan Delapan DPW

Kalau memang tidak diperhatikan oleh pemerintah, ia berjanji bersama warga setempat akan melakukan penanaman pohon pisang di tengah jalan itu, sehingga semua mata bisa melihat apakah itu jalan raya atau kebun.

Ia menilai, setiap tahun ada petugas yang  datang foto -foto di lokasi dan mengukur jalan tersebut hanya sekedar mempertontonkan kepada masyarakat bahwa ada perhatian dari pemerintah, ternyata  itu semua hanya sandiwara belaka.  (ade)