Lintasan Kereta Api Kupang – Atambua Sementara Diwacanakan

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Lintasan Jalan Kereta Api Kupang – Atambua, Kabupaten Belu, Wilayah Perbatasan Negara Timor Leste, sementara diwacanakan yang saat ini sedang dikaji di Badan Pelitian Pengembangan Kementerian Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia.

Wacana ini sudah dibahas sejak Mantan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Richard Djami yang sempat diberitakan di salah satu media online tanggal 6 Maret 2016 lalu, kata Kepala Dinas Perhubungan NTT, Isyak Nuka, ST,MM kepada wartawan di Kupang, Jumat (11/1//2019).

Wacana itu langsung ditanggapi oleh Badan Litbang Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dengan argumentasi yang dikemukakan adalah pertahanan dan keamanan di Wilayah Perbatasan Negara Kesatuan Repblik Indonesia (NKRI) dan Negara Timor Leste.

Dari segi efektif waktu, menurut dia,  lebih mempercepat tiba di tempat tujuan yang sebelumnya dengan bus Kupang – Atambua memakan waktu  7 jam, tetapi kalau dengan kreta api  bisa dipercepat hanya dalam tempo 2 jam saja.

Baca juga :  Gubernur NTT Mengajak DPRD TTU untuk Berpikir Global

Ia menyebutkan, ada tiga lintasan yang dikaji, yakni lintasan poros tengah dari  Kupang menyinggahi tiga stasiun, yakni SoE, Ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kefamenanu, Ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), dan Atambua, Ibu Kota Kabupaten Belu dengan pertimbangan kepadatan penduduk, dan kepentingan perdagangan.

Selanjutnya, poros selatan, Kupang – Malaka – Atambua. Kemudian poros utara, Kupang – Amfoang – Oepoli, Perbatasan Distric Oecuse, Negara Timor Leste yang nantinya berbentuk lintasan lingkar luar atau disebut dengan nama jalan sabuk merah perbatasan dengan pertimbangan pertahanan keamanan.

Ketiga poros itu nanti, akan dilakukan feasibility study (FS) atau studi kelayakan. “Dari ketiga FS itu, nanti kita pilih mana yang lebih menguntungkan dari sisi topo grafinya, kepadatan penduduk dan sebagainya. Semuanya akan  dikaji untuk dilihat mana bobot yang paling besar,”urainya.

Baca juga :  Terkait Penjualan Tanah Milik Pemkab Mabar, Kejati NTT Geledah Kanwil BPN NTT

Kata Isyak, kajian yang dilakukan Badan Litbang Pertahanan dan Keamanan lebih menekankan pada alasan utamanya dari sudut pandang pertahanan dan keamanan di wilayah perbatasan.

“Terhadap wacana itu, kita sudah melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama Tim Badan Litbang Kementerian Pertahanan dan Keamanan dengan melibatkan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Balai Transportasi Darat Wilayah XIII, dan  Korem Wira Sakti 161 Kupang.  FGD yang telah dilakukan itu untuk melakukan sharing atau diskusi pengumpulan informasi terkait wacana tersebut. Nanti, kita tunggu hasil kajian dari Kementerian Pertahanan dan Keamanan, apakah  layak untuk dibangun lintasan kreta api di Timor sini atau tidak,” tukasnya.

Kalau alasan ekonomi, menurut dia, bisa saja hasil kajiannya tidak masuk. Tetapi, kalau alasannya untuk pertahanan dan keamanan, maka peluang  untuk lolos sangat besar. Sebab, berbicara pertahanan dan keamanan, menurut Nuka, tidak lagi melihat berapa biaya yang harus dikeluarkan.

Baca juga :  Tingkatkan Mutu dan Seni Kreatif Lokal, BOP - LBF Gelar Pelatihan

“Kalau Tahun 2019 ini hasil kajiannya masuk, maka akan diikuti dengan tahap perencanaan mulai dari pra FS, master plan, Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), dan pembuatan desain. Dan kalau FS-nya layak, tinggal Kementerian Perhubungan menyiapkan anggarannya bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan dan Keamanan,” ujar dia.

Ia menyebutkan, lintasan kreta api yang sudah terlayani di Indonesia, yakni Pulau Jawa, dan Sumatra. Nanti akan diikuti dengan Sulawesi yang saat ini sementara dibangun. Sedangkan untuk NTT dan Papua sedang diwacanakan, tutupnya. (ade)