Kelahiran Yesus Membawa Suka Cita Bagi Manusia

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Hari raya Natal yang diperingati umat kristiani setiap tanggal 25 Desember setiap tahun, merupakan peringatan hari lahirNya Yesus Kristus.

Natal adalah pesta keluarga kudus Nazaret, Yesus, Maria dan Joseph. Yesus  lahir sebagai cahaya dunia, yang membawa suka cita bagi manusia di bumi, kata Pater Mikhael dalam kotbah perayaan hari raya Natal di Gereja St. Kristoforus Matani, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),  Selasa (25/12/2018).

Dalam kotbahnya, Pater Mikhael mengatakan, terang dan kegelapan selalu dialami setiap manusia. Dengan terang orang bebas beraktifitas, tetapi sebaliknya dengan kegelapan orang tidak bisa melakukan aktifitas apa saja.

Kata Pater Mikhael, secara rohani kegelapan itu identik dengan dosa. Dosa itu selalu pada zona nyaman. Yesus sebagai terang sejati mendiami di dalam hati manusia. Sebab, Yesus lahir untuk menyelamatkan manusia dari dosa.

“Yesus telah lahir di tengah-tengah kita. Natal membawa damai, Tuhan Yesus lahir sebagai cahaya dunia. Dia adalah Raja membawa suka cita. Kegelapan tidak mampu menyalahkan terang. Apakah anda mampu membawa terang Kristus sebagai kado Natal bagi orang lain? Allah mau menyatu dengan manusia. Oleh karena itu, kita turut membagi suka cita dengan saudara-saudara kita yang lain,” urainya.

Baca juga :  35 Pelaku UKM di Mabar Dapat Bantuan Kredit Tanpa Agunan dan Bunga Bank NTT

Karena itu, tema Natal tahun ini “Yesus Lahir Dalam Keluarga Kita”. Karena itu, Pater Mikhael mengajak umatnya untuk membawa keluarganya masing-masing, yakni ayah, ibu dan anak-anaknya merayakan pesta kelahiran Yesus dengan penuh suka cita.

“Mari, kita kembali ke Nasaret menjadikan  keluarga kudus Yesus, Maria dan Joseph menjadi contoh dalam kehidupan keuarga kita masing-masing setiap hari.  Curiga itu adalah hal yang wajar, tetapi cinta kasih itu selalu hidup dalam keluarga kita masing-masing. Dalam suka, dan duka, untung dan malang, sehat dan sakit kita tetap mempertahankan keutuhan kehidupan keluarga. Gua Natal boleh dibongkar, tetapi kasih Kristus akan tetap segar dan selalu hidup dalam  kehidupan kita setiap hari. Semoga damai Natal lahir dalam kehidupan kita masing-masing, dan membagikan suka cita Natal kepada semua orang yang kita jumpai,”imbuhnya.

Sebelumnya, Pater Yoman,CMF dalam kotbah malam Natal, Senin (24/12/2018) mengatakan, kelahiran Yesus di dunia adalah rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosa.  Solidaritas Allah lebih banyak merangkul, menerima dan mengayomi sesama.

“Kasih karunia Allah itu nyata pada diri Yesus putra tunggalNya. Artinya, Allah yang kita imani itu sungguh hadir dalam kehidupan manusia. Allah mau mempersempit jarak dengan manusia. Yesus merangkul semua manusia tanpa membeda-bedakan antara satu dan lainnya. Sikap Yesus mengayomi, dan membantu bagi sesama yang membutuhkan. Solidaritas Allah yang mau mengambil bagian dan menerima kenyataan hidup manusia apa adanya. Tuhan yang masuk dalam sejarah hidup kita dengan segala cinta dan kasihNya yang begitu dalam, agar manusia bisa keluar dari  kegelapan menuju terang,” paparnya.

Baca juga :  Tingkatkan Peran Serta , IMO-Indonesia Sampaikan Surat ke Dirjen Polpum Kemendagri RI

“Pertanyaan bagi kita adalah apa makna Natal bagi kita? Sudah berulang-ulang kita merayakan Natal dari tahun ke tahun. Natal, bukan sekedar sebuah pesta yang hanya hura-hura, tetapi Natal adalah peristiwa penyelamatan bagi manusia yang berdosa. Manusia yang hidup dalam kegelapan menuju terang,” kata Pater Yoman.

Karena itu, ia terus mengajak umatnya untuk membuka mata, telinga, dan hati melihat penderitaan orang lain.  Natal adalah peristiwa manusia yang merasakan kehadiran Tuhan untuk melihat penderitaan sesama akibat bencana alam, bencana sosial dan sebagainya.

“Kita tetap menjadi pribadi-pribadi yang sederhana yang mengikuti teladan Yesus sendiri. Natal juga mengingatkan kita semua untuk lebih solidaritas terhadap sesama. Natal bukan hanya sekedar sebuah pesta yang mengandung nilai-nilai komersial, tetapi Natal adalah peristiwa penyelamatan dari Allah bagi manusia yang berdosa. Manusia yang hidup dalam kegelapan menuju terang. Kita harus solider bagi orang lain untuk membuka mata, membuka telinga, dan membuka hati melihat penderitaan orang lain,” sebut Pater Yoman.

Baca juga :  Antisipasi Bahaya Kebakaran, UIW NTT Gandeng Dinas Pemadaman Kebakaran Kota Kupang

Makna Natal juga, menurut Pater Yoman,  adalah peristiwa manusia yang merasakan kasih karunia Tuhan yang berbela rasa bagi sesama yang menderita,  seperti yang terjadi pada saudara-saudara kita yang terkena bencana tsunami di Banten, dan bencana alam lainnya di daerah lain di Indonesia.

“Celakalah, apabila di masa Natal ini kita tertawa di atas penderitaan orang lain. Natal, tidak hikmah bagi orang itu. Natal adalah membiarkan Tuhan hadir dalam kehidupan kita. Dia akan tinggal bersama kita. Kiranya Natal tahun ini membawa kita semua ke jalan yang benar. Kita tetap menjadi pribadi yang sederhana sebagaimana yang diteladani Yesus sendiri. Natal juga akan menggugahkan kita untuk hidup lebih solider dengan sesama kita,”tutupnya. (ade)

Komentar