Antisipasi Lonjakan Harga, TPID NTT Diminta Bekerja Keras

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com- Tim Pengendali Inflasi Daerah Nusa Tenggara Timur (TPID NTT) diminta bekerja keras mengantisipasi lonjakan harga barang termasuk sembilan bahan pokok (Sembako) menjelang hari raya Natal, 25 Desember 2018 dan Tahun Baru, 1 Januari 2019.

“Saya minta TPID NTT bekerja keras di lapangan untuk mengantisipasi lonjakan harga menjelang hari raya Natal, 25 Desember 2018 dan Tahun Baru, 1 Januari 2019,” pinta Kepala BPS Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapia  didampingi  Kepala Bidang Statistik dan Distribusi BPS NTT, Demarce M. Sabuna,S.ST, SE,M.Si saat memaparkan press release bulanan perkembangan inflasi, nilai tukar petani, ekspor impor dan tingkat hunian kamar hotel  di ruang rapat BPS setempat, Senin (3/12/2018).

Baca juga :  Firmin Timoneno, Terpilih Menjadi Ketua KP2AD Leguderu

 Maritje mengingatkan hal itu, karena pada November 2018 di NTT sudah mulai mengalami inflasi sebesar 0,82 persen, setelah empat bulan sebelumnya sejak Juli, Agustus, September, dan  Oktober 2018 NTT mengalami deflasi.

“Dari hasil pemotretan yang dipantaui tim kami di 115 kecamatan di NTT,  rata-rata kenaikan harga itu terjadi di minggu ke-4 bulan November 2018, dan itu pun angkanya masih bisa terkendali. Kami berharap TPID NTT bekerjasama untuk memantau harga menjelang hari raya Natal, 25 Desember 2018 dan Tahun Baru, 1 Januari 2019,” imbuhnya.

Inflasi November 2018 di NTT terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada 6 kelompok pengeluaran, dimana kelompok transportasi mengalami kenaikan terbesar yaitu sebesar 3,52 persen dan bahan makanan jadi mengalami penurunan indeks harga.

Baca juga :  Gubernur NTT Dampingi Menteri Kelautan dan Perikanan ke Kabupaten Kupang

Kondisi serupa juga terjadi  di dua kota lainnya di NTT, yakni Kota Kupang mengalami inflasi sebesar 0,87 persen dan Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 0,48 persen yang dipicu oleh kenaikan harga tiket transportasi udara, dan harga pulsa internet.

Dari  82 kota sample IHK Nasional, 70 kota mengalami inflasi dan 12 kota mengalami deflasi.  Inflasi tertinggi terjadi di Kota Merauke sebesar 2,05 persen dan terendah terjadi di Kota Balik Papan dengan inflasi sebesar 0,01 persen.

Deflasi terbesar di Kota Medan sebesar 0,64 persen, terendah di Kota Pematang Siantar dan Pangkal Pinang sebesar 0,01 persen. (ade)