Di Nagekeo, Satu Keluarga Tewas Tertimbun Longsor

KUPANG,  NTT PEMBARUAN.com – Satu keluarga di  Kampung Terabhoja, Desa Selalejo Timur, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tewas tertimbun tanah longsor, Senin (12/11/2018).

Kejadian yang menimpa satu keluarga  itu berlangsung sekitar pukul 05.30 wita.  Selain tiga korban, lima rumah di lokasi kejadian juga tertimbun longsor, dan 22 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Tiga korban yang dinyatakan meninggal dunia itu, yakni Paulus Loi (70), bersama saudarinya Janda Paulina Muku (45) dan anak kandung Paulina Muku bernama, Damianus Lobo (25).

Bencana alam yang menewaskan satu keluarga dan 5 rumah warga di Kabupaten Nagekeo itu disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Tini Thadeus kepada wartawan di Kupang, Selasa (13/11/2018).

Ia menceritakan, hujan deras melanda wilayah itu sejak Minggu, 11 November 2018 sekitar jam 11.00 Wita. Saat itu, Paulus Loi datang tidur di rumah saudarinya Paulina Muku. Saat kejadian, satu keluarga ini  masih tidur. Sedangkan 22 jiwa dari 5 kepala keluarga (KK) lainnya yang berdomisili di sekitar itu cepat bangun pagi itu, sehingga selamat dari bencana.

Baca juga :  Bupati Nagekeo Bersama Masyarakat Secara Gotong Royong Mengerjakan Jaringan Irigasi Tersier di Desa Marapokot

Tini optimis, kalau saja satu keluarga yang tewas itu bangun cepat pada Senin, 12 November 2018 pagi itu, pasti selamat dari timbunan tanah longsor. Tiga korban yang meninggal dunia itu  sudah dievakuasi dan dimakamkan oleh keluarganya.

Sementara 22 jiwa lainnya dari 5 kepala keluarga (KK) atau 5 rumah yang kehilangan tempat tinggal, saat ini masih mengungsi di rumah tetangga terdekatnya di Desa Selalejo Timur, Kecamatan Mauponggo.

Atas peritiwa itu, Tini sudah bicarakan dengan Kepala BPBD Kabupaten Nagekeo untuk menyalurkan bantuan kepada para korban.  Tini mengatakan, berdasarkan aturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban jiwa yang berkisar antara 1-5 orang itu merupakapan tanggungjawab atau kewajiban pemerintah kabupaten/kota yang memberikan uang duka wafat sebesar Rp 5 juta per jiwa plus peti jenasah diambil dari dana tak terduga.

Baca juga :  Jelang HUT RI ke-75, 12 Desa di Sumba Menikmati Listrik

“Untuk bisa mengeluarkan dana itu, prosedurnya harus membuat pernyataan bencana kepada kami kemudian diajukan ke bupati untuk mendapat persetujuan. Karena untuk mengeluarkan dana itu, harus ada surat pernyataan bencana sesuai jenis bencana yang terjadi dilampirkan nama-nama korban dalam bentuk keputusan bupati,” urainya.

Kalau jumlah korbannya  5- 10 orang, maka itu sudah merupakan kewajiban pemerintah provinsi (Pemprov) menanggung dana duka wafatnya yang dibuatkan dalam bentuk SK Gubernur, dan kalau jumlahnya di atas 10, maka itu sudah merupakan tanggungjawab BNPB sesuai Peraturan Kepala BNPB Nomor : 01 Tahun 2008.

Khusus untuk para korban tanah longsor di  Kampung Terabhoja, Desa Selalejo Timur, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo,  kata Tini, itu sudah merupakan tanggungjawab Pemda Nagekeo untuk melakukan relokasi pasca bencana.

Baca juga :  Air Terjun Cunca Wae Jati, Objek Wisata Baru di Kota Labuan Bajo

“Saya telah memerintahkan BPBD Kabupaten Nagekeo untuk menyiapkan fasilitas hunian sementara bagi para korban yang selamat,” kata Tadeus. (ade)

Komentar