TPK Hotel Berbintang di NTT Naik 3,29 Poin

KUPANG, NTT PEMBARUAN.com – September 2018, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 62,21 persen, naik 3,29 poin dibanding TPK Agustus 2018 hanya sebesar 58,92 persen.

Dari hasil pendataan Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur  (BPS NTT) yang disampaikan Kepala Bidang Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Demarce M. Sabuna kepada wartawan di Kupang, Kamis (1/11/2018) menyebutkan, TPK hotel berbintang di NTT pada September 2018 mengalami kenaikan sebesar 3,29 poin.

Jumlah tamu menginap pada hotel berbintang pada September 2018, 54.284 orang terdiri dari 47.413 orang tamu nusantara, dan 6.871 orang tamu mancanegara. Rata-rata lama tamu menginap di hotel berbintang pada September 2018 selama 1,58 hari, yakni tamu nusantara selama 1,51 hari, dan tamu mancanegara selama 2,28 hari.

Baca juga :  Pemkab Kupang Siap Menata Pasar Oesao

Sementara jumlah penumpang angkutan udara yang datang ke NTT pada bulan September 2018, sebanyak 179.417 orang. Sedangkan penumpang yang berangkat sebanyak 177.215 orang.

PPI Manufaktur Triwulan III 2018 Naik

Pabrik Semen Kupang
Pabrik Semen Kupang

Sabuna juga menyebutkan, potret pertumbuhan produksi industri (PPI) manufaktur besar maupun sedang (q to-q) triwulan III 2018 mengalami kenaikan sebesar 3,36 persen dibanding triwulan II tahun 2018, dan pertumbuhan (y-on-y) triwulan III tahun 2018 terhadap triwulan III tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 9,18 persen.

Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil (q-to-q) triwulan III tahun 2018 naik sebesar 1,03 persen dibanding triwulan II tahun 2018, dan pertumbuhan  (y-on-y) triwulan III tahun 2018 terhadap triwulan yang sama tahun 2017 di NTT mengalami kenaikan sebesar 30,35 persen.

Baca juga :  Wagub : Pengembangan Pariwisata NTT Butuh Digitalisasi

Pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang di NTT menurut jenis industri triwulan III tahun 2018 (q-to-q) meliputi, industri makanan, -14,50 persen, industri minuman, 24,31 persen,  industri barang galian bukan logam, 62,65 persen, dan industri furniture, -8,15 persen.  (ade)

Komentar