NTT Kembali Mengalami Deflasi 0,45 Persen

KUPANG,NTT PEMBARUAN.com – Agustus 2018, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mengalami deflasi sebesar 0,45 persen dari deflasi Juli 2018 lalu sebesar 0, 13 persen. Sementara Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 132,15 dari posisi Juli 2018 sebesar 132,75.

Hal yang sama juga terjadi di Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,49 persen dari posisi Juli 2018, 0,19 persen dan Kota Maumere mengalami deflasi sebesar 0,15 persen dari posisi Juli 2018 lalu mengalami inflasi sebesar 0,29 persen.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Maritje Pattiwaellapia  saat menyampaikan press realease di Ruang Rapat Lantai II Kantor BPS NTT, Senin (3/9/2018). Deflasi Agustus 2018 di NTT, kata Martje, terjadi karena adanya penurunan indeks harga pada empat kelompok pengeluaran, yaitu bahan makanan, perumahan, sandang dan makanan jadi.

Kelompok bahan makanan mengalami penurunan indeks terbesar, yaitu sebesar 2,56 persen. Sedangkan tiga kelompok pengeluaran lainnya mengalami kenaikan indeks harga, dimana kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan mengalami kenaikan indeks tertinggi sebesar 1,39 persen.

Baca juga :  Urgensitas Hak Kekayaan Intelektual Bagi 57 Produk UKM Lokal di Mabar

Sepuluh komoditas utama penyumbang/penghambat inflasi Agustus 2018 di NTT, yakni angkutan udara, 0,23 persen, kelompok bermain, 0,03 persen, ikan teri kering, 0,02 persen, daun seledri, 0,02 persen, seng, ikan kakap merah, pepaya, kacang panjang, tahu mentah dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,01 persen.

Sementara 10 komoditas penghambat inflasi di Kota Kupang meliputi, angkutan udara, 0,25 persen, kelompok bermain, 0,03 persen, ikan teri kering, daun seledri, ikan kakap merah, dan seng masing-masing 0,02 persen, kacang panjang, tahu mentah, minyak goreng dan upah pembantu rumah tangga masing-masing sebesar 0,01 persen.

Sedangkan di Kota Maumere, angkutan udara, dan pepaya masing-masing sebesar 0,09 persen,, jeruk, 0, 04 persen, sekolah dasar, ikan layang/benggol, ikan asin belah, dan besi beton masing-masing sebesar 0,03 persen, mobil, alpukat dan kunyit masing-masing sebesar 0,02 persen.

Baca juga :  PLN Peduli Bangkitkan Perekonomian Industri Rumah Tangga Ibu PKK Desa Lumbukor

Maritje menyebutkan, dari 82 kota sample IHK Nasional Agustus 2018, 30 kota mengalami inflasi dan 52 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tarakan sebesar 0,62 persen dan terendah terjadi di Kota Medan dan Padangsidempuan dengan inflasi sebesar 0,01 persen. Deflasi terbesar terjadi di Kota Babau sebesar 2,49 persen.

 

NTP Agustus 2018 Naik 0,81 Persen

 Para petani sedang memanen padi

Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur (BPS NTT)  mencatat juga Nilai Tukar Petani (NTP) di NTT pada Agustus 2018 sebesar 107,28 persen atau mengalami kenaikan sebesar 0,81persen dibanding Juli 2018 sebesar 106,42 persen dengan persentasi 1,10 persen.

Hampir semua subsektor mengalami kenaikan, seperti 106,54 persen untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P),  104,38 persen untuk subsektor hortikultura (NTP-H), 108,96 persen untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR), 108,30 persen untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 111,22 persen untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).

Baca juga :  Bupati Kupang Mengapresiasi Kerjasama PT. Garam dengan Pemilik Lahan Bipolo

Dari data itu, Maritje menyimpulkan,  bahwa tingkat kemampuan/daya beli dan daya tukar (term of trade) petani di pedesaan meningkat. Hal ini disebabkan pendapatan petani meningkat lebih tinggi dibandingkan pengeluaran.

Di daerah pedesaan, ujar dia, pada Agustus 2018 terjadi deflasi sebesar 0,23 persen. Seluruh subkelompok mengalami deflasi. Faktor pemicunya adalah penerimaan rumah tangga meningkat, sedangkan konsumsinya menurun.(ade).

Komentar