Bambang : Pengadaan Ternak Tak Perlu Bebankan APBD

OELAMASI, NTT PEMBARUAN.com – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kupang, Ir. Bambang Permana memiliki ide yang cemerlang untuk mensejahterakan masyarakat petani peternakan di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Ke depan, saya berharap, pemerintah tidak lagi membebankan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk pengadaan ternak kepada masyarakat. Tetapi,  kita serahkan  sepenuhnya ke pihak swasta untuk mengaturnya. Tugas kita hanya menyiapkan infrastruktur pendukung, seperti sarana prasarana, memberi rasa aman, melakukan pendampingan dan mengatur regulasi,” kata Bambang kepada wartawan di lokasi Kelompok Tani ((Koptan) Setetes Madu di RT 09,  Dusun I, Desa Camplong II, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (3/8/2018).

Ia contohkan, Kelompok Tani Peternak Setetes Madu di RT 09, Dusun I, Desa Camplong II, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang pengadaan sapinya murni dari pihak swasta dari Jakarta dibawa binaan Polda NTT.

Struktur Organisasi Kelompok Tani  Setetes Madu ini Pelindungnya , Irjen Pol. Drs. Agung S. Santoso, SH,M.H, Pembimbing, Ir. Bambang Permana dari Dinas Peternakan Kabupaten Kupang, dan Ir. Debora Kanahau dari BPTP NTT, Ketua, Dermi A. Utan dengan memiliki 20 anggota.

Kelompok ini memiliki lahan 150 hektar. Lahan yang rata-rata berbatu karang  itu kini sudah berubah menjadi hijau dengan tanaman pakan ternak dari lamtoro teramba.  Lamtoro teramba yang ditanam kelompok tani itu hasilnya sudah mulai dirasakan oleh  masyarakat. Dimana,  baru-baru ini, hasil penjualan biji lamtoronya saja bisa mendapatkan uang sebesar Rp 70 juta lebih dengan harga Rp 50.000 per kg. Sedangkan daunnya untuk pakan ternak.

Di dalam lahan itu juga sudah tersedia sumur bor dengan kekuatan debit air 2,5 liter per detik yang dibangun Polda NTT tahun ini. Sumur bor itu dilengkapi dengan satu reservoar besar dan 8 bak penampung. Setiap hari dihidupkan dari  jam 08.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita. Air yang ada  itu  selain untuk kebutuhan ternak, juga  untuk kebutuhan manusia, seperti minum, memasak, mandi dan mencuci.

Baca juga :  Helikopter BNPB Jemput Sampel Swab di Nagekeo

Awalnya, kata Bambang, pihak perbankan takut  berinvestasi karena  menyangkut kenyamanan  uang. “Tetapi, sekarang tidak takut lagi, karena kita bangun di situ pem

berdayaan bisnis. Tentu dalam sistem pemberdayaan bisnis ada kenyamanan aset. Jadi, orang  simpan uangnya di situ ada keuntungan,” tukasnya.

Ternak yang ada di kelompok itu, lanjut dia, sudah diasuransikan.  Jadi, jika terjadi apa-apa dengan ternak tanggungjawab asuransi. Misalnya, patah kaki, asuransinya sebesar Rp 5 juta, atau  sapi mati  mendapatkan asuransinya sebesar Rp 10 juta. “Jadi, investor juga merasa nyaman,” kata Bambang.

Untuk menjaga kesehatan sapi, pihaknya sudah mentrasferkan ilmu kesehatan kepada ketua kelompok taninya, sehingga bisa menjadi tenaga medis mandiri.  “Jadi kalau ada sapi yang sakit, bisa disuntik sendiri.  Karena kita sudah  mentransferkan  ilmu dan teknologi kepada ketua untuk diteruskan ke anggotanya,” sambung Bambang.

Jadi Kawasan Agro Wisata

POSE BERSAMA- Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Peternakan Kabupaten Kupang, Ir Bambang Permana berpose bersama anggota Kelompok Setetes Madu di lokasi peternakan sapi Desa Camplong II, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (Foto: Kanisius Seda)

Menurut rencana, ke depanya kawasan ini akan menjadi kawasan agro wisata di Kabupaten Kupang.  Di dalam kawasan itu nanti, selain dilakukan penggemukan ternak juga memiliki kolam ikan lengkap dengan lopo di tengahnya,  serta ditanam sayur-sayuran dan  buah-buahan yang dikelola langsung oleh masyarakat.

“Mimpin kita, duplikat Batu Malang, Provinsi Jawa Timur dibawa ke tempat ini. Kita akan membangun kearifan lokal dalam rangka mendukung program Nawacita Presiden Jokowi dengan filosofi membangun dari desa. Nanti di sini bukan saja budidaya peternakan, tetapi juga peternakan terpadu. Karena itu, semua steakholder harus berkolaborasi dan bergandengan tangan, seperti Dinas Pertanian, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kesehatan, pihak perbankan, pihak swasta dan sebagainya,” sebut Bambang.

Baca juga :  Bupati Kupang Mengharapkan Kegiatan TMMD Dilakukan Dua Kali Setahun

Ia bermimpi, kawasan ini akan menjadi kawasan percontohan bukan saja di Kabupaten Kupang,  tetapi untuk Kawasan Timur Indonesia  dari lahan marginal atau lahan kering berubah menjadi lahan hijau yang nantinya akan menjadi salah satu daerah destinasi wisata alam yang memiliki pemandangan menarik di NTT. “Sekarang kita merubah lahan yang dulunya tidak produktif menjadi produktif.  Harapan kita untuk jangka panjang di sini adalah tidak saja sebatas meningkatkan pendapatan para petani, tetapi lebih pada peningkatan kesejahteraan masyarakat petani,” pungkasnya.

Karena itu, program untuk jangka pendek, dan jangka menengah mempercepat berat badan sapi yang sebelumnya untuk mendapat berat badan sapi 300 kg membutuhkan waktu hingga 2 tahun. Tetapi, sekarang diperpendek hanya dalam tempo 6 bulan.

Penghasilan kelompok juga tidak saja dari peternakan, tetapi juga mengolah pupuk kompos dari hasil kotoran sapi untuk menjadi pupuk tanaman,  baik sayur-sayuran, cabe rawit maupun buah-buahan seperti ketimun, dan sebagainya.

Menurut rencana, akhir September atau awal Oktober 2018 sudah bisa dilakukan panen perdana sayur dan buah-buahan hasil usaha masyarakat di lokasi itu sekaligus dilakukan penanaman perdana kelapa hibrida di kawasan tersebut oleh Kapolri.

Sementara Ketua Kelompok Setetes Madu, Dermi A. Utan mengaku, dengan adanya kelompok ini cukup membantu masyarakat setempat. “Anggota kelompok yang sah hanya 20 orang. Tetapi, sudah ada lagi yang mau bergabung sekitar 40 orang,” tandasnya.

Di dalam lahan seluas 150 hektar itu, selain dilakukan peternakan sapi juga ditanami lamtoro teramba untuk pakan ternak, sayur-sayuran, buah-buahan, cabe rawit, dan nanti akan ditanami lagi kelapa hibrida pada saat peresmian oleh Kapolri akhir September atau awal Oktober 2018 mendatang.

Baca juga :  Kadis PUPR : “Kami Optimis 2021 Jalan Provinsi Sudah Tuntas”

“Selama bergabung di kelompok ini,  kami sangat merasakan manfaatnya, terutama dalam meningkatkan pendapatan keluarga,” tambahnya.  Sementara sistem yang dibangun adalah bagi hasil, dimana kelompok mendapatkan 60 persen, sedangkan pemodal hanya mendapatkan 40 persen saja. Awalnya, memang mereka kesulitan pakan ternak. Untuk mendapatkan pakan saja harus berjalan kaki kurang  lebih 2-3 kilo meter. Tetapi dengan adanya penanaman lamtoro teramba bantuan bibit dari Dinas Peternakan Kabupaten Kupang di sekitar lokasi itu, sehingga jarak tidak lagi bermasalah untuk mencari pakan. Semuanya sudah ada di sekitar lokasi kelompok.

“Sekarang pakan sudah tersedia, dan  tidak susah lagi mencari pakan di musim kemarau tahun ini. Apa lagi air sudah ada di depan mata. Jadi, sangat memudahkan kami,” tuturnya.

Awal pembentuk kelompok itu, kisah Dermi, diambil dari 10 ekor sapi milik anggota dengan pola pemeliharaan sapi diikat di bawah pohon.  Kemudian tahun berikutnya, pada tahun  2017 ada pengadaan 20 ekor sapi kerjasama pihak swasta dari Jakarta yang mempunyai kepedulian terhadap masyarakat peternak di Kabupaten Kupang dengan sistem dikandangkan.

Menurut Dermi, dikandangkan lebih baik daripada diikat di bawah pohon. Karena peningkatan berat badannya 2 kali lipat dibanding diikat di bawah pohon.  Misalnya, berat badan mengalami kenaikan dari standar 250 kg naik menjadi 300 -400 kg. (ade)

Komentar