Dugaan Money Politic di Ende Mulai Diproses

ENDE, NTT PEMBARUAN.com- Kasus money politic (politik uang,red) yang diduga dilakukan  pasangan Ir. Marselinus Y.W. Petu, salah seorang pasangan calon Bupati Ende dari paket Marsel – Djafar (MJ) di Desa Ndito, Kecamatan Detusoko, Jumat (15/6/2018) mulai memasuki tahap klarifikasi untuk pengambilan keterangan 3 orang saksi  dari warga Ndito yang turut hadir dalam acara penyerahan amplop berisi uang pada kampanye dialogis MJ di desa tersebut pada Selasa, 12 Juni  2018 lalu.

Klarifikasi pengambilan keterangan pertama dilakukan terhadap Mosalaki Riabewa Bedu, Bebhu Gija Winga Su’u Mbulu Wangga Kati, Daniel Sa yang merupakan saksi utama atau saksi kunci yang menerima amplop berisi uang Rp 5.000.000 dari Calon Bupati Ende, Ir. Marselinus Y.W. Petu.

Kepada wartawan usai diperiksa di ruang Sentra Hukum dan Penindakan Pelanggaran (HPP) Panwaslu Kabupaten Ende,  Daniel Sa mengatakan, kedatangan Calon Bupati Ir. Marselinus Y. W. Petu dan timsesnya ke rumah adat masyarakat Ndito  tidak pernah diundang oleh para Mosalaki Ndito untuk melakukan kampanye atau memberikan sumbangan uang dalam kaitan dengan pembangunan rumah adat tersebut.

“Kami tidak minta untuk diberikan sumbangan, tetapi kalau kami diberi ya kami terima” katanya. Mosalaki Riabewa ini menambahkan,  sebelum kedatangan paket MJ ke Rumah Adat Ndito, pihak mosalaki didatangi Yohanes Sai, salah seorang timses paket MJ meminta kepada para mosalaki agar menerima paket MJ untuk berkampanye, tetapi dirinya tegas menolak karena saat itu sedang disibukkan dengan pembangunan rumah adat tersebut. Namun, karena sudah ada paket tersebut tiba di tengah masyarakat, maka dilakukan musyawarah mufakat diantara para mosalaki untuk tetap menerima atau menolak tim MJ.

Baca juga :  Kapolda NTT Diminta Hentikan Penyidikan Pemred BeritaNTT.com dan Pemred Tribuana Pos

“Saya hanya 1 suara menolak kehadiran paket MJ, tetapi karena 5 mosalaki lainnya mengizinkan paket MJ berkampanye, maka saya harus mengalah untuk mengikuti keputusan ke – 5 mosalaki lain yang menerima,” tambah Mosalaki Daniel.

Daniel Sa menuturkan kehadiran paket MJ di Ndito hendak memberikan sumbangan untuk pembangunan rumah adat yang saat ini tengah dibangun. “Kai mai lele nosi kami kema Sao Ria, makanya kai nosi aku sumbang Nao sa Nai no ki sa pongo. (Dia datang karena ada informasi tentang pembangunan rumah adat kami. Dan maksud kedatangannya untuk memberikan sumbangan seutas ijuk dan seikat alang-alang, red),” tuturnya.

Lebih lanjut Daniel mengucapkan kembali kata – kata kiasan yang diungkapkan Calon Bupati Ende yang diusung 7 partai politik ini. “Kita wurumana wai laki  ina lea no laja, laja no lea ro sama -sama, lea no laja ro iwa mesa. Aku rina miu tau tu laja  ke we’e dowa, aku rina tanggal 27 Juni mae kelo  kata Daniel Sa. (Kita laksanakan silatuhrami ini bagaikan halia dan lengkuas dimana halia dan lengkuas sama – sama pedisnya, halia dan lengkuas pedisnya tidak sendiri – sendiri, sehingga saya minta kamu semua antar lengkuas saja dulu dan jangan lupa tanggal 27 Juni, red),” sambung mosalaki paruh baya ini.

Mosalaki yang juga Ketua BPD Ndito ini membenarkan adanya penyerahan uang oleh Ir. Marselinus Y.W. Petu sebesar Rp 5.000.000, dan uang tersebut tetap disimpan olehnya hingga saat ini untuk diserahkan kembali sebagai barang bukti dalam kasus ini.

Baca juga :  Gubernur VBL Gratiskan Swab dan Rapid Test  Bagi Masyarakat NTT  

“Sampai hari ini uang itu tidak kami pakai. Sebenarnya tadi saya mau serahkan ke Panwas tetapi saya takut jatuh di jalan atau dirampas orang sehingga tidak ada lagi barang bukti. Karenanya saya minta Panwaslu untuk ambil uang itu di kampung saja” ucapnya.

Dalam pemeriksaan tersebut dirinya diajukan 17 pertanyaan terkait kejadian yang diketahuinya dan dirinya pun akan bersedia memberikan keterangan lanjutan jika diperlukan ke depannya.

Sementara itu, Ketua Tim Advokasi Paket WM, Titus Tibo, SH usai mendampingi para saksi mengatakan,  semua saksi yang diambil keterangannya mengungkapkan bahwa mereka turut melihat dan menyaksikan adanya penyerahan amplop oleh Ir. Marselinus Y.W. Petu kepada mosalaki Daniel Sa dalam kegiatan kampanye tersebut.

“Para saksi ini memberi kesaksian sesuai dengan apa yang mereka tahu, apa yang mereka dengar dan apa yang mereka alami di kampung.  Ada yang mendengar dengan jelas dan ada yang samar –  samar, tetapi satu yang pasti semua melihat adanya penyerahan uang” katanya.

Terkait hasil pemeriksaan yang dilakukan tim HPP Panwaslu Ende, Titus menegaskan sesuai dengan harapan pelapor bahwa apa yang mereka laporkan tentang politik uang itu terbukti. Oleh karena itu,  Panwaslu harus bertindak sesuai dengan peraturan dan UU yang berlaku.

“Kita juga ingin tahu seperti apa money politic itu jika yang dilakukan saat ini bukan kategori money politic sesuai dengan pasal 187 a UU Nomor :  10 tahun 2016. Kalau memang prilaku seperti ini bukan money politic, maka ke depan para kandidat akan bawa uang kemana – mana saat kampanye,” tandasnya.

Baca juga :  Gubernur NTT Mengajak DPRD TTU untuk Berpikir Global

Tim Advokasi paket WM berencana akan merekomendasikan laporan kasus ini ke Bawaslu Provinsi  NTT dan Bawaslu RI, namun karena masih suasana libur, maka dalam waktu dekat akan di e – mail ke Bawaslu NTT.

“Betul. Kita ada rencana akan melaporkan ke Bawaslu NTT melalui e – mail atau media apa pun yang bisa disampaikan karena melalui surat fisik kan memakan waktu lama. Kita salut dengan Panwaslu Kabupaten Ende, yang mana hari libur juga mereka tetap melakukan pemeriksaan. Kita menghormati itu,” tutur Titus Tibo.

Sementara itu Koordinator Sentra  Hukum dan Penindakan Pelanggaran (HPP) Panwaslu Kabupaten Ende, Basilius Wena mengungkapkan saat ini belum bisa memberikan kesimpulan karena belum dilakukan kajian lanjutan oleh Gakkumdu.

“Panwaslu akan menyerahkan ke Sentra Gakkumdu untuk kajian lebih lanjut dan jika ditemukan pelanggaran, maka akan diproses sesuai aturan yang berlaku,” ungkap Wena.

Blasius menjelaskan sudah 4 orang saksi yang dimintai klarifikasinya diantaranya saksi pelapor Yohanes Woda Moa, Mosalaki Riabewa Bedu Bebhu Gija Winga Su’u Mbulu Wangga Kati, Daniel Sa, Anselmus Woka dan Dominikus Roti perwakilan Fai Walu Ana Kalo.

“Semua saksi telah memberikan keterangannya terkait kejadian yang terjadi. Kita akan lakukan kajian selanjutnya,” pungkasnya. (mon)

Komentar