Pesona Sumba, Energi Pariwisata Lestari

Sumba, Forgotten IslandSumba, yang Terlupakan, judul  buku ditulis oleh Pastor Robert Ramone,C.Ss.R. Judul buku tersebut menguggah rasa dan mengundang perhatian dari berbagai pihak. Menyingkapkan betapa unik budaya dan komunitas adatnya, indah  alam dan ramah masyarakatnya dari Sumba Timur hingga Sumba Barat Daya.
Di  tepi pantai selatan Sumba Barat Daya, persisnya di Pantai Ratenggaro, tugu batu megalitik berdiri tegak.Banyak wisatawan berfoto selfie dengan latar tugu batu megalitik,   tempat tautan relung batin penghuni/warga lokal kepada leluhur/penguasanya. Tugu batu menjadi penanda hubungan yang tak terelakan antara penganutnya dengan kekuatan pengayomnya dalam kepercayaan Marapu. Hal ini merupakan salah satu dari sekian tugu batu di Sumba yang bercerita  ada sebuah kearifan dan sistem religi  asli warga sumba.

Tugu Batu pemujaan leluhur Sumba,di pantai Ratenggaro( dok.clemens)

Tak jauh dari tugu batu megalitik tersebut, dalam getaran dan nuansa warisan yang sama, terlihat kampung adat Ratenggaro yang membelakangi hempasan samudera hindia.Sebuah Kampung dimana rumah-rumah tadisional yang menjulang tinggi dan dibangun kokoh, ditopang kuat  4 tiang utama /soko guru. Masih banyak kampung adat Sumba Barat Daya, seperti Kampung tradisional  Bongu,kodi dll.

Menarik untuk dijelajahi kampung adat  selain di Sumba Barat Daya yakni rumah tradisional  dapat dijumpai di kampung Wunga Sumba Timur.Sebuah  kampung keramat yg dipersembahkan sebagai tempat berlindung para leluhur . Juga Kampung tradisional tua Laitarung,Sumba Tengah.

Rumah tradisional Sumba  yang disebutUma Mbatanga mengukirkan sebuah desain arsitektural yang unik .”Uma Mbatangu, rumah tradional Sumba digunakan sebagai desain resor oleh  Nihiwatu.Sebuah resor yang menjuarai akomodasi terbaik dunia versi majalah travel +Leisure selama dua tahun berturut-turut,tahun 2016 dan 2017. Konsep rumah tradisional ini diadopsi untk mengembangkan homestay dalam membangun akomodasi di sepuluh destinasi pariwisata prioritas atau Bali Baru, kata Nia Niscaya,Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Wilayah, Eropa , Timur Tengah,Afrika dan Amerika kementerian pariwisata, dalam
Pameran industri pariwisata terbesar dunia World Travel Market,London,6-8 November 2017 (Runik Sri Astuti,Eksostika Nusantara di Kota Ratu Elisabeth,Kompas,Kamis,23 Nov 2017)”
,
Selain Kampung tradisional,Sumba memikat wisatawan karena tradisi penghormatan kepada  leluhur.Hal ini bisa telusuri dan ditapaki dalam upacara-upacara adat yang didahului sesajian kepada leluhur.  kubur-kubur Batu megalitik menjadi salah satu tempat berlangsung upacara itu.Tampak kubur batu  di kampung Rende Sumba Timur.Kubur batu megalitik di kampung Pasunga,Anakalang Sumba Tengah.Kubur Batu Megalitik tua di Loli,sumba barat.

Pesona warisan budaya :Kampung adat/rumah tadisional ,kubur batu megalitik ,kerajinan tangan tenun ikat,upacara adat penarikan batu kubur,tarian adat,musik dan permainan tradional,festival adat seperti pasola dll tersebar luas di Tanahumba, nama lain Sumba.Dan masih banyak  acara adat yang menguatkan, meneguhkan, memeriahkan serta menyatukan.
Singkatnya   para wistawan disuguhkan atraksi menarik dari peristiwa kelahiran hingga peristiwa kematian menjadi narasi yang hidup.pada titik ini Tanahumba membuat penasaran dan mengundang decak kagum.

Baca juga :  Jelang Pilkada, Polres Mabar Tingkatkan Koordinasi Pengamanan

Kisah menarik tanah humba serasa tak ada  akhir karena masih  ada karakteristik spasial  yang lain menyediakan Air Terjun Pabeti Lakkera,Eden Sumba Barat Daya .Air terjun Matayangu, Anakalang Sumba Tengah dan viewpoint baik sunrise maupun sunset

Selain itu  lanskap sumba dilengkapi semilir angin samudera Hindia dan deburan ombak   Pasir Putih Pantai Niwiwatu.  Pantai Mananga aba yang menjadi  berlabuhnya sampan nelayan mencari ikan dan nyaman bagi wisatawan. Tak ketinggalan   Pantai Tewel,Sumba Barat Daya yang  membentuk teluk,seakan membuka dan merangkul pemilik yacht dan para pelancong dari kapal pesiar manakala teluknya telah dipoles menjadi Marina. Pantai Tawui ,Praing Kareha, Sumba Timur.
Pantai Ratenggaro dan Pantai Watumelando di Kodi SBD dan Danau asin, Natar Noki (Waikuri SBD).

Foto Pantai mananga Aba (dok.clemens)

Semua pesona alam di atas terasa belum lengkap lukisan pesona Sumba tanpa membingkainya dalam Padang savana sumba timur.Hal ini mengingatkan kita akan judul film di antaranya angin rumput savana

Keunikan budaya, keindahan alam dan keramahan masyarakat  Sumba seakan hanyut dalam paket wisata Bali atau Lombok bahkan Sumbawa. “”Potensi pariwisatanya luar biasa,Pantai tewel itu kalau sudah dikelola dengan baik dan maksimal  menjadi marina, sebagai sektor andalan Sumba, menjadi tempat berlabuhnya yacht dan kapal pesiar yang menggerakan jaringan bisnis yang lain.Pada gilirannya memberikan manfaat dan  mendatangkan keuntungan yang besar bagi Sumba” kata Al.Purwo,salah seorang pengusaha hotel yang pernah menjadi pengurus ASITA Bali dalam bincang pagi beberapa waktu yang lalu . “Selain itu, para turis dari Australia, melalui Darwin atau Perth akan senang berada di Sumba karena jarak cukup dekat,dengan menggunakan pesawat jet  saja dapat ditempuh 1 jam 30 menit  mereka sudah berada di Sumba atau di Australia” terang lebih lanjut pengusaha yang melebarkan sayap bisnis hospitality di Mananga Aba,Sumba Barat Daya .Sambil berharap perlu ada regulasi yang menjamin investor, perlu penataan homestay yang memadai dan peningkatan sanitasi seperti air bersih,tersedianya toilet.permudah akses internet dan mempercepat pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan laut dan udara  dll.

Masih banyak hal harus dibenahi dan mendapatkan perhatian,berbagai upaya para stakeholder ketika Pesona Sumba gencar dipromosikan.Mungkin dalam cara pandang ini,  buku” Sumba Yang Terlupakan”.Sumba,Forgotten Island” seakan memberikan gizi ikhtiar para stakeholder untuk semakinmeneguhkan  pesona Sumba.

Baca juga :  BTNK dan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Terapkan Sistem Registrasi Online


PariwisataLestari

Pesona Sumba mau dijadikan  seperti  Bali atau daerah tujuan wisata yang lain? Pertanyaan di atas mendapatkan jawaban dalam pertemuan para stakeholder pariwisata Sumba 30 Sepetember -01 Oktober 2017 di Sumba Hotel School ,antara lain pemerintah lokal,pelaku bisnis hospitality,pendidik di bidang pariwisata dan civic society organisation/CSO. Para stakeholder mendiskusikan dan mencanangkan bentuk pengembangan pariwisata di Sumba adalah Pariwisata yang berkelanjutan, Pariwisatalestari (indefinite period of time).

Konsep Pembangunan yang berkelanjutan dalam konteks pariwisata maupun pembangunan pariwisata yang berkelanjutan menekankan satu hal yakni komunitas atau masyarakat setempat dan lingkungan sebagai  fokus perhatian dan sasaran pembangunan.”Kita perlu mendorong Sumba  menjadi salah kawasan  pariwisata nasional yang berbasis masyarakat.kearifan lokal dan kekayaan budaya masyarakat setempat yang didukung oleh keindahan alam yang baik serta  ekosistem lainnya dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat lokal,wisatawan,pelaku bisnis dan meningkatkan pendapatan daerah”kata Asisten Deputi Bidang Pengembangan Infrastruktur dan Ekositem Pariwisata Kementerian Pariwisata RI,Dr.Frans Teguh,MA pada kesempatan yang berbeda.

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Pelaksana Tugas  Bupati Sumba Barat Daya,Drs. Ndara Tangguh Kaha: pemerintah kabupaten memandang pulau Sumba dengan luas 10.710 km2,memiliki ciri ras campuran mongoloid dan melanesoid,secara abiotic, biotic dan kultural  memiliki   potensi dan pesona wisata sangat kaya.Pemkab Sumba Barat Daya mendukung setiap upaya untuk meningkatkan mutu hidup masyarakat, meningkatkan kualitas dan produktivitas lingkungan dan melestarikan budaya.Hal ini sejalan dengan program baik program nasional, Nawacita,program dunia, Tujuan pembangunan yang Berkelanjutan/SDG’s PBB maupun propram pembangunan daerah.

Dengan status pembangunan pariwisata yang masih bisadikembangkan lagi, Pemerintah Kabupaten di Sumba secara khusus Pemkab Sumba Barat Daya mendukung inisiatif konferensi pariwisata yang berkelanjutan di Sumba Hotel School karena gagasan dan langkah tersebut semakin menggerakkan peluang  ekonomi masyarakat/menerapkan the whole economy ,potensi aktivitas komunitas  dan tentu saja Pemkab  SBD sebagai penyelenggara pelayanan publikdi daerah  siap membantu dan bekerja sama untuk memajukan pariwisatat Sumba umumnya dan Sumba Barat Daya khususnya “lebih lanjut kata  Drs. Ndara Tanggu Kaha, beberapa waktu yang lalu.

Sependapat dengan  PLT Bupati SBD,Martinus Gabriel Goa,Direktur IRCI mengatakan sumba itu sebuah potensi yang luar biasa,perlu dirajut dan hendaknya para pemangku kepentingan terlibat agar sumba menjadi sebuah  kawasan nyata bagi pariwisata yang unik,lestari dan tidak tergilas oleh hentakan perubahan zaman dan tidak tergerus oleh orientasi kepentingan sesaat. Namun justru satukan energi bersama,memelihara dan merawat agar warisan budaya dan ekosistemnya  tetap lestari yang  mengundang para wisatawan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal dan para pihak dalam interaksinya.

Baca juga :  Pemulihan Ekonomi Akibat Dampak Covid 19, Gubernur NTT Minta Para Bupati Siapkan Langkah Strategis

Searah dengan gerakan, semangat dan roh  pengembangan pariwisata yang erkelanjutan,Redempta Bato Ketua Sumba Hospitality Foundation,menegaskan nilai-nilai pawisata berkelanjutan telah ditanamkan kepada siswa-siswi sebagai simpul pengusung pariwisata berkelanjutan.Generasi pengemban pariwisata yang akan datang dari 4 kabupaten Sumba dididik dalam konsep yang menyatu dengan alamnya. Bangunan sekolah  terbuat dari bambu dan beratapkan alang-alang;sayuran organik diolah dari kebunnya sendiri;energi listrik sepenuhnya menggunakan tenaga surya,penyediaan air bersih dikelola secara daur ulang.”Namun siswa-siswa berkemampuan mengunakan media pemahaman bersama yakni  bahasa inggris.Merasa tak ketinggalan kompetensi dalam pasar kerja.Mengingat lembaga pendidikan kami adalah di bidang hospitality  maka Ketrampilan anak didik kami diasah baik penataan kamar/rumah,keahlian memasak,menyajikan makanan dan minuman yang dibimbing para sukarelawan ahli dari berbagai negara.  Harapannya semua pihak bisa berkomitmen dan menjalankan pariwisata berkelanjutan di Sumba.

Lokasi sekolah HotelSumba (dok.clemens)

Kedepannya,dlm gerakan dan semangat bersama,kami menetapkan prioritas pariwisata berkelanjutan sumba seperti mengoptimalisasikan maafaat wisata bagi masyarakat sumba pada bidang kesehatan dan infrastruktur ;Memprosikan kepedulian dan menghargai terhadap lingkungan alam;Kelayakan ekonomi pariwisata;Kampung dan budaya dinamisme dan budaya;Peran pemerintah,

Prioritas ini menjadi bagian dari Nilai inti pariwisata berkelanjutan dan bertanggunjawab  yang  menjaga keseimbangan koneservasi, budaya, komunitas dan perdagangan. tegas lebih lanjut koordinator karya Koaliasi Pariwisata Berkelanjutan Sumba/The Sumba Sustainable Tourism Coalition tersebut.

Dengan demikian  Pariwisata berkelanjutan senantiasa berpijak pada jejak langkah harian masyarakat lokal; tumbuh kembang pada lingkungan dan seluruh ekosistemnya;memupuk tumpuhan harapan keberlanjutan para pihak;merajut persahabatan dengan sesama dan menjalin persaudaraan dengan semua manusia dari belahan manapun.     Tepat sekali butir pemikiran Pope John Paul II dalam World Tourism Today:”The world is becoming a global village in which people from different continents are made to feel like next door neighbors. In facilitating between individuals,tourism can help overcome many real prejudices , and foster new bonds of fratenity”.

( Clemens M Ghawa)